Seratus Ribu

Kubuka penutup wadah plastik segi empatku. Ini kali keempat aku membuka penutup wadah itu. Di dalam wadah ada beberapa macam kue. Jumlahnya masih sama seperti satu jam yang lalu. Walaupun aku tahu jumlahnya sama, tetap saja aku membukanya, berharap jumlah kue akan berkurang. Suatu harapan yang bodoh karena itu tak mungkin terjadi.

“Huh, sepi sekali hari ini!” keluhku. Aku menyeka keringatku yang mulai bercucuran. Hari sudah siang. Sebentar lagi jam akan berdentang 12 kali. Kue yang kujual baru laku beberapa buah. ‘Bagaimana ini?’ pikirku. Kalau aku pulang sekarang, kesempatan mendapatkan pembeli akan hilang. Akupun pasti akan dimarah ibu karena banyaknya kue yang tidak laku. Tapi kalau aku tidak pulang, aku akan terlambat pergi ke sekolah dan dimarahi oleh Bu Guru. Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.

Aku membungkus wadah plastik segi empatku dengan kain. Setelah itu aku menentengnya dan meninggalkan pasar. Aku berjalan kaki pulang ke rumah. ‘Hmmm… Jika ibu memarahiku karena dagangan yang tak laku, ya sudahlah. Mungkin sudah nasibku. Hari ini apes!’ pikirku sambil menendang kerikil-kerikil kecil yang kutemui dalam perjalanan pulang. Tuk! Tuk! Mataku mengikuti arah kerikil itu menggelinding. Tiba-tiba, mataku menangkap sesuatu berwarna merah tergeletak di trotoar.

Aku menghentikan langkahku. Mataku terbelalak melihat selembar uang berwarna merah itu. ‘Seratus ribu!!’ pekikku dalam hati. Aku menoleh ke kanan-kiri, melihat ke sana-ke mari. Tak ada orang di sekitarku. Kembali aku menatap uang tak bertuan itu. ‘Uang ini milik siapa, ya? Haruskah kuambil? Atau kubiarkan saja?’ Aku bingung. ‘Ambil? Tidak. Ambil? Tidak.’ Kembali aku melihat situasi. Tak ada orang. Aku membungkukkan badan dan mengambil uang itu.

* * *

“Bu! Ibu! Aku pulang!” teriakku begitu sampai di rumah.

“Iya. Segeralah ganti pakaianmu lalu makan dulu sebelum pergi ke sekolah!” sahut ibuku dari dapur.

Bukannya mengikuti perintah ibuku, aku malah menghampiri beliau. “Bu, hari ini sepi. Dagangan tidak laku.”

“Apa? Banyak sekali sisanya??” kata ibuku saat melihat kue-kue yang tersisa di dalam wadah plastik. Nampak sekali beliau kecewa. Sebelum ibuku mengomel karena dagangan yang tak laku, aku buru-buru mengeluarkan uang dagangan dan uang tak bertuan yang tadi kutemukan. “Ini uangnya, Bu,” kataku.

Ibuku memandangi uang yang kuletakkan di atas meja. “Bagaimana bisa uangnya sebanyak ini?” tanyanya tak percaya. “Apa kamu mencuri? Ayo, cepat katakan!”

“Aku tidak mencuri, Bu. Di perjalanan pulang tadi, aku menemukan selembar uang seratus ribu tergeletak di jalan. Tak ada yang punya. Jadi aku ambil saja.”

“Apa? Walaupun tak ada yang punya, tapi itu bukan milikmu, Nak! Bagaimana kalau pemiliknya kembali lagi ke sana dan tidak menemukan uangnya? Pasti dia akan menyumpah-nyumpah karena kesal uangnya hilang.”

“Tapi, Bu… Kita tidak akan pernah tahu siapa pemilik uang ini.”

“Pokoknya uang itu jangan dipakai buat belanja! Kembalikan saja ke tempat kau menemukannya tadi saat berjalan ke sekolah nanti!”

* * *

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku masih terjaga di kamarku. Sambil berbaring di ranjang, aku memandangi selembar uang seratus ribu yang tadi siang kutemukan di jalan. Aku tak menuruti pesan ibuku agar mengembalikan uang itu ke tempat aku menemukannya. ‘Sayang sekali jika uang ini tak dipakai. Mubazir! Lagipula, memangnya pemiliknya tahu di mana ia kehilangan uang ini?’ pikirku. Tak berapa lama setelah meneliti setiap bagian uang tak bertuan itu, aku terlelap.

* * *

“Doni… Doni… Kembalikan uangku!” kata seorang nenek berambut panjang dan berantakan.

“Bagaimana nenek tahu namaku?” tanyaku.

“Tentu saja aku tahu… Kau mengambil uangku. Cepat kembalikan, Doni!”

“Uang yang mana, Nek? Aku tak merasa mengambil uang Nenek.”

“Uang yang tadi siang kau temukan di jalan. Seratus ribu… Itu milikku! Cepat kembalikan!!” bentak nenek itu.

“Tidak! Aku tak akan memberikannya pada Nenek. Bagaimana aku tahu uang itu benar-benar uang Nenek? Bagaimana kalau Nenek bohong padaku?”

“Itu uangku! Cepat kembalikan!!”

“Tidak mau! Itu bukan uang nenek! Itu uangku!”

“Kembalikanlah, Doni. Kembalikan… Kembalikan…,” kata nenek itu sambil mendekatiku. Ia mengulurkan kedua tangannya ke arahku seperti orang mau mencekik. Aku berlari menghindarinya.

“Pergi! Pergi!” teriakku. Tak disangka rupanya aku kalah cepat. Nenek itu berhasil menangkapku. Ia mencengkeram leherku dengan kedua tangannya yang kurus. Matanya melotot marah. Bibirnya menyeringai kepadaku. Wajahnya sangat menyeramkan. Lalu, ia mencekikku. “Aaaagghhh!!!” teriakku.

Seketika aku bangun dari tidurku. ‘Huft… Mimpi!’ kataku dalam hati. Napasku tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku memegang leherku. Terasa sakit.

* * *

Aku sedang meletakkan wadah plastik segi empatku ke atas meja tempat aku berjualan kue ketika penjual-penjual di sekitarku sedang membicarakan sesuatu yang nampaknya seru.

“Kemarin ada kecelakaan!”

“Oh, ya! Aku dengar seorang nenek ditabrak mobil tak jauh dari sini.”

“Kapan kejadiannya?”

“Kemarin sekitar jam 10.”

“Seorang nenek? Kenapa nenek itu bisa ditabrak mobil?”

“Aku dengar cerita orang, katanya nenek itu mau ke pasar untuk membeli obat.”

“Jadi bagaimana kondisi nenek itu sekarang?”

“Meninggal. Ia tak tertolong ketika di bawa ke rumah sakit.”

Aku terdiam mendengar percakapan itu. Kukeluarkan uang seratus ribu tak bertuan dari saku celanaku. ‘Apa benar uang ini milik nenek itu?’ tanyaku dalam hati sambil memandangi uang itu. Saat itulah aku melihat ada jejak darah di kanan atas dekat dengan nomor seri uang. Tak percaya, aku mendekatkan uang itu ke mataku agar aku bisa melihatnya lebih jelas. Benar! Sidik jari bercap darah! Jantungku serasa berhenti berdetak. Napasku sesak. Tiba-tiba, aku mendengar seseorang memanggilku dari belakangku.

“Doni… Doni… Kembalikan uang nenek…”

Aku menoleh. Nenek yang semalam ada di mimpiku kini berdiri di belakangku.

* * *

869 kata. Fiksi ini diikutkan dalam tantangan #FiksiBeruang oleh @KampusFiksi

Advertisements

3 thoughts on “Seratus Ribu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s