Move On

Sudah dari beberapa hari yang lalu saya pengen banget nulis tentang ini. Move On! Ya, bahasa keren ini dapatnya dari Om Mario Teguh. Biasanya dipakai untuk orang yang baru saja patah hati atau mengalami kekecewaan karena hubungannya bermasalah. Di sini yang ingin saya bahas adalah move on-nya orang yang patah hati.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang ibu berkata begini pada saya, “Eh, kamu kenapa nggak balik lagi saja sama mantan kamu? Wajah kalian, kan, mirip! Itu artinya berjodoh, lho!”

Waktu itu, saya pengen banget bilang begini: “Hellooo, sejak kapan wajah mirip jadi patokan bahwa dua orang itu berjodoh??” Tapi, saya nggak bilang begitu pada si ibu mengingat beliau adalah orang tua. Ntar saya dibilang nggak sopan. Jadi saya hanya tersenyum dan berkata, “Maaf, saya nggak mau balikan lagi sama mantan!”

Seandainya saja semua orang mikir pakai logika, pasti nggak akan ada kalimat yang meluncur seperti kalimatnya si ibu itu. Banyak contoh bahwa wajah mirip bukan jaminan bahwa kedua orang itu berjodoh. Beberapa teman saya yang dulu pacaran, malah putus. Padahal wajah mereka mirip. Bukan hanya satu kasus, tapi beberapa. Lalu teman-teman saya itu akhirnya menikah dengan orang lain yang wajahnya sama sekali nggak mirip. Bahkan boleh dibilang beda banget! So, sekali lagi, wajah mirip itu bukan jaminan berjodoh!

Nah, selain logika tentang wajah, ada logika lainnya yaitu tentang penyebab putusnya hubungan kedua orang, baik hubungan pacaran maupun pernikahan. Yang namanya putus, penyebab utamanya pasti tidak cocok dan tidak mau menerima.

Contoh: si A dan si B pacaran. Lalu si B selingkuh. Si A akhirnya memutuskan si B karena tidak terima perlakuan si B. Itu artinya sama dengan si A merasa tidak cocok dengan sifat si B yang selingkuh.

Contoh lainnya: si C dan si D pacaran. Setelah beberapa tahun akhirnya mereka putus. Si D tidak bisa terima sifat si C yang selalu egois dan kekanak-kanakan. Itu menandakan bahwa mereka tidak cocok, kan.

Contoh ketiga: si E dan si F pacaran. Mereka akhirnya bertunangan dan akan segera menikah. Tapi muncul masalah, orangtua F tidak mau calon menantunya bekerja. Mereka maunya si F saja yang bekerja dan E harus jadi ibu rumah tangga. E dan F akhirnya batal menikah karena E tidak terima dengan paksaan orangtua F agar berhenti dari pekerjaannya. Di sini ada unsur penolakan (tidak terima). E merasa tidak cocok dengan keluarga F.

Apapun alasan orang putus, secara garis besar bisa disimpulkan karena ketidak-cocokan – tidak cocok, tidak bisa menerima baik masalah sifat, keuangan, keluarga atau masalah lainnya.

Kalau putus artinya kan tidak cocok. Logikanya, kalau tidak cocok, kenapa harus balikan lagi? Masa mau memaksakan hal yang tidak cocok?

Ada teman yang mengutip kata-kata dari internet, bunyinya kira-kira seperti ini: “Balikan sama mantan tuh ibaratnya memakai lagi celana yang belum dicuci. Baunya ke mana-mana.” Lalu, ada juga kata-kata seperti ini: “Balikan sama mantan tuh ibarat baca buku yang sama berulang-ulang. Endingnya ya masih sama saja.” Intinya, kembali ke mantan itu sama saja dengan mengulangi masalah yang sama, pada akhirnya pasti tidak akan cocok.

Buat apa terus-terusan mikirin mantan? Buat apa terus-terusan mantengin mantan: dia lagi apa, dia sekarang sama siapa, dia ngapain aja, dst, dsb, dll… sampai-sampai menyelidiki mantan melalui temannya ataupun melalui akun media sosialnya dan temannya. Apa mau terus-terusan jadi penguntit mantan? Padahal mantan belum tentu mikirin kamu! Lalu, buat apa iri pada mantan jika dia sudah dapat yang baru? Pikirkan diri sendiri, nggak usah pikirkan hidupnya mantan. Dia mau apa, terserah! Itu bukan lagi urusanmu. Mau dia untung atau rugi, kamu bukanlah bagian dari hidupnya lagi walaupun kamu masih berteman dengannya. Nggak usah ikut campur dengan kehidupan mantan. Urus saja hidupmu sendiri. Itu yang lebih penting.

Sekali lagi saya ingatkan, putus hubungan itu karena adanya ketidakcocokan. Salah satu pasti tidak menerima apa adanya. Kalau sudah tahu dari awal tidak cocok, buat apa kembali lagi, toh? Bikin capek dan menghabiskan waktu saja!

Di sinilah maka disarankan untuk ‘move on.’ Move on itu artinya nggak usah mikirin yang telah berlalu, jadikan itu pelajaran, melangkahlah ke depan, bangkit, dan bersemangat demi masa depan. Move on juga boleh diartikan: buka hati untuk hal yang baru. Hidup terus berjalan, jangan jalan di tempat dan mikirin yang sudah berlalu. Kalau putus, ya sudah. Memangnya cowok atau cewek cuma dia? Helloooo… Masih banyak jomblowan dan jomblowati di luar sana yang menunggu uluran tanganmu! Cari yang baru!

Yang penting, pas nyari pacar baru jangan nyari sekaligus banyak dan tinggal pilih salah satu yang sreg. Nyarinya ya satu-satu, dong! Masa langsung ngumpulin sekaligus? Biasanya orang akan ilfel jika tahu bahwa orang yang lagi pedekate dengannya juga melakukan pedekate dengan orang lain. Nggak lucu kalau mencari pacar di satu kawasan, yang didekati langsung banyak, dan akhirnya ketahuan bahwa orang-orang yang didekati itu ternyata berteman. Lalu mereka saling cerita. Akhirnya, pacar satupun nggak dapat, malah dibilang ‘sana-sini mau’ atau ‘ganjen’ atau ‘si pemberi harapan paslu alias PHP.’ Move on boleh asal jangan serakah.

—–
Yuk diingat kata-kata ini:
Life must go on and I must move on!

Advertisements

2 thoughts on “Move On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s