Prompt #70: Cangkul

Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masing mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

“Mas Koyo,” orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. “Saya Kiswoyo, masih ada hubungan darah dengan Mbak Uci,” katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. “Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini,” sambungnya.

“Kamu tahu di mana Uci?” tanyaku.

“Mbak Uci tidak dapat angkutan untuk menjemput Mas,” jawab orang itu.

Aku menatap orang bernama Kiswoyo itu. “Mbak Uci tadi menelepon saya,” katanya lagi seakan tahu aku penasaran bagaimana caranya dia tahu bahwa istriku tidak dapat angkutan.

“Boleh aku meminjam teleponmu untuk menghubunginya?” tanyaku.

Kiswoyo menekan beberapa nomor lalu menyerahkan teleponnya padaku. Terdengar suara operator. Teleponnya tidak aktif. Akhirnya aku mengikuti Kiswoyo menuju ke rumahnya.

“Mari masuk,” ajaknya ketika kami tiba di sebuah gubuk reyot.

Kiswoyo mempersilakan aku duduk. Lalu, ia membuatkan teh untukku.

“Mas masih saudara dengan Uci? Saudara dari mana, ya?” tanyaku penasaran dengan identitas Kiswoyo sambil menyeruput teh pemberiannya. Seingatku, Uci tak pernah bercerita bahwa ia punya saudara bernama Kiswoyo.

“Iya, Mas. Boleh dibilang, kami masih sepupu. Saudara jauh,” jawabnya.

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Sebenarnya aku masih penasaran karena Kiswoyo tidak menjelaskan dengan detil siapa dirinya. Tapi ya sudahlah, aku terlalu lelah untuk berpikir.

Malam semakin larut. Aku berbaring di kursi bambu panjang di ruang tamu. Sebelumnya, Kiswoyo memberiku selimut dan bantal yang sudah usang. ‘Lumayanlah ada tempat menginap, daripada harus tidur di jalan,’ pikirku. Besok aku akan segera pamit dan mencari angkutan untuk kembali ke kampungku. Rasanya sudah tak sabar ingin bertemu dengan istriku setelah bebas dari penjara. Tidak butuh waktu lama, dalam hitungan detik aku sudah tertidur pulas.

Tengah malam, aku terbangun dari tidurku karena suara berisik. Aku mendengar bunyi orang sedang mencangkul di luar. Rasa ingin tahuku yang sangat besar mengalahkan rasa kantukku. Aku mengambil lilin yang ada di atas meja lalu berjalan ke luar.

“Sial! Kenapa jadi begini! Huh!” gerutu orang yang sedang mencangkul itu.

Aku terkesiap. Kiswoyo! Walaupun gelap, aku mengenali suaranya. Apa yang dilakukannya? Mencangkul apa dia malam-malam begini? Saat itu, tak sengaja aku menginjak sebatang ranting. Krak!

“Siapa itu?” teriaknya. Lalu ia membalikkan badannya. Saat itulah aku mengetahui apa yang dilakukannya. Di belakangnya ada sesosok mayat perempuan dan di sebelahnya ada lubang yang baru dicangkul. Istriku!!

“Kau! Apa yang kau lakukan pada istriku??” teriakku. Aku melayangkan tinjuku ke wajah Kiswoyo. Tapi, ia mengelak dan memukul punggungku dengan gagang cangkul. Seketika aku tak sadarkan diri.

* * *

“Baru satu hari bebas dia sudah buat ulah lagi,” kata seseorang saat aku sadar.

Aku mendapati diriku kembali menempati sel yang sempit. Punggungku masih sakit. Di luar, aku melihat Kiswoyo sedang mengobrol dengan sipir penjara. Aku mencoba berteriak, tapi suaraku sama sekali tak keluar. ‘Apa yang terjadi padaku?? Ke mana hilangnya suaraku??’ batinku.

Kiswoyo menyeringai padaku. Lalu, ia membisikkan sesuatu pada penjaga itu. Si penjaga lalu mempersilakan dia mendekat kepadaku. Di depan jeruji besi, ia membisikkan sesuatu padaku.

‘Teh itu bagus juga. Suaramu hilang selamanya….’ Ia tersenyum sinis. Aku membalasnya dengan tatapan garang. ‘Kau memang pantas berada di sini, Koyo. Istrimu… Aku yang selama ini membiayai hidupnya. Tapi, ia tak tahu terima kasih. Ia tetap ingin kembali padamu. Dan, kaulah yang membuatnya mati!!’

 

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam MondayFlashFiction Prompt #70: Batu Asah dari Benua Australia. Info klik di sini.

Advertisements

14 thoughts on “Prompt #70: Cangkul

  1. Menurutku, karena Koyo membawa lilin, nyala lilin itu pun sebenarnya sudah cukup membuat Kiswoyo sadar bahwa ada orang yang mendekat (tak perlu sampai menginjak ranting). Selebihnya keren. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s