Bukan Mimpi

“Wah, ada undangan!” seruku saat melihat ada sebuah undangan pesta pernikahan di atas meja di ruang tamu.

“Iya. Anaknya Om Nathan menikah minggu depan. Nanti kita pergi sekeluarga,” kata ibuku dari dapur.

“Om Nathan siapa, Ma?” tanyaku pada ibuku.

“Om Nathan itu teman lama Papamu,” jawab ibuku.

Aku mengeluarkan undangan berwarna merah jambu itu dari amplopnya dan membaca isinya. Undangan itu untuk minggu depan. Waktunya pukul 6 sore dan pestanya menggunakan sistem perjamuan sederhana. Ada kupon door prize di sisi kanan undangan. Tertulis di bagian bawah kupon tersebut: “Undangan harap di bawa dan berlaku untuk 2 orang.”

Mengetahui hal itu langsung aja aku berteriak, “Yah, undangannya berlaku untuk dua orang. Berarti aku nggak bisa ikut, dong! Papa dan Mama saja yang pergi,” ujarku kecewa.

“Memangnya kamu mau sendirian di rumah?” tanya ibuku.

“Eh, iya juga, ya,” jawabku.

Sebagai anak tunggal, aku selalu ikut ayah dan ibuku ke mana-mana. Kadang aku pergi dengan sahabat-sahabatku. Kadang aku pergi sendirian. Tapi, aku lebih sering pergi bersama kedua orangtuaku. Malam-malam sendirian? Sebenarnya aku takut. Apalagi aku sering membaca berita tentang perampokan rumah dan pembunuhan. Hiiii!!

“Begini saja, Ma. Mama dan Papa pergi ke acara itu. Aku pergi ke mal saja,” tawarku pada ibuku.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ibuku setuju.

* * *

Hari yang ditunggu pun tiba. Aku berangkat dari rumah bersama kedua orangtuaku. Sebelum mereka pergi ke pesta pernikahan anak Om Nathan, aku diantar ke mal dekat rumahku. Setelah itu, ayah dan ibuku pergi ke pesta.

‘Pesta perjamuan sederhana biasanya lama selesainya; bisa sampai 4 jam. Apa yang harus aku lakukan di mal ini, ya?’ pikirku. AKu tak pernah jalan-jalan di mal sendirian di malam hari. Jadi, aku sedikit takut -takut kalau tiba-tiba ada copet atau orang-orang yang suka iseng pada anak gadis yang sedang berjalan sendirian. Tapi kupikir, lebih baik cuek saja dan memasang gaya cool supaya tak ada orang yang berani mengganggu. Sambil berpikir apa yang harus aku lakukan selama waktu tersebut, aku berkeliling di mal yang baru selesai dibangun ini. Aku melihat-lihat barang-barang yang dipajang di etalase deretan toko yang ada di depanku. Semuanya barang mahal. Selain toko-toko, ada juga cafe dan restoran.

Saat aku sedang melihat-lihat jam tangan yang dipajang di sebuah etalase toko, seseorang menegurku. “Hai, cewek!”

Teguran itu sepertinya teguran dari orang iseng, pikirku. Karena itu, aku tidak menoleh dan melanjutkan kegiatanku melihat-lihat ke etalase.

“Cewek… Sombong sekali, nih!” kata seseorang yang tak kukenal itu.

Karena merasa risih, aku meninggalkan toko jam dan bergegas ke tempat lain. Sialnya aku salah pilih jalan. Aku melewati lorong yang toko-tokonya masih belum buka. Sepi sekali. Langkah kakiku dan langkah kaki orang yang menegurku tadi terdengar jelas di lorong yang agak gelap itu.

“Hei, cewek berhenti berjalan! Tak akan ada yang menyelamatkanmu di sini!” seru orang itu.

Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badanku. Orang itu seorang yang berperawakan kecil. Dia memakai jaket kulit hitam dan bertopi hitam pula. Saat aku membalikkan badanku, dia mengeluarkan sebilah pisau pendek dari saku jaketnya.

“Jangan berteriak kalau tidak mau kau terluka!” ancamnya.

Aku terdiam. Ketakutan. Kaki dan tanganku gemetaran. ‘Oh, apa yang harus kulakukan sekarang?’ Aku benar-benar panik.

“Serahkan tasmu!” perintahnya.

Dengan tangan yang masih gemetaran, aku menurunkan tasku dari pundak dan menyerahkannya pada pemuda bertubuh kurus itu.

Saat penjahat itu mengambil tasku tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Bruk!! Si penjahat jatuh tersungkur. Pisau yang dipegangnya terpental jauh ke lantai. Spontan aku berteriak histeris. “Aaagghhh!!”

Orang yang baru datang itu lalu memukul punggung si penjahat yang mencoba untuk melarikan diri. Saat itulah, datang beberapa satpam mal. Si penjahat pun ditangkap dan digiring oleh satpam. Pisaunya yang terpental jauh juga dimabil sebagai barang bukti.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya orang yang menyelamatkanku.

“I-iya…,” jawabku terbata-bata, masih ketakutan.

“Kamu ke sini sendirian, Wina?” tanya orang itu lagi.

Saat orang itu memanggil namaku, aku baru sadar kalau dia adalah kakak kelasku. Lebih tepatnya, gebetanku. Ronald namanya. Aku tersipu malu. Oh, my God! Mau ditaruh di mana mukaku? Betapa malunya bertemu dengan gebetan pada situasi seperti ini! Rasa malu dan rasa senang bercampur-aduk menjadi satu.

“Iya, Kak Ron, aku sendirian ke mari. Tadi ayah dan ibuku mengantarku ke sini. Mereka sekarang ada di acara pesta dan akan menjemputku seusai pesta,” kataku pada kak Ronald. Ia menganggukan kepalanya.

“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” kataku lagi.

“Nggak masalah. Kebetulan aku melihatmu tadi berjalan dengan langkah cepat dan diikuti orang berbaju hitam itu. Jadi, aku mengikutimu. Untunglah kamu nggak apa-apa.”

“Iya, nggak ada yang terluka. Untung ada kakak.”

“Kamu sendirian, kan? Aku juga sendirian. Sebenarnya tadi aku berangkat dari rumah bersama ibu dan adikku. Mereka sedang ke pesta pernikahan dan akan kujemput seusai pesta.”

Setelah mengobrol sebentar, ternyata ibu dan adik kak Ronald pergi ke pesta yang sama dengan pesta yang dihadiri oleh ayah dan ibuku. Hmmm… Kebetulan yang aneh, kan?

“Bagaimana kalau kita jalan sama-sama saja?” tanyanya.

Deg! Jantungku berdegup kencang. ‘Jalan bareng kak Ronald?? Aku pasti sedang bermimpi!’ jeritku dalam hati. Lalu aku mencubit lengan kiriku. Sakit. Berarti aku tidak bermimpi.

Melihatku ragu-ragu menjawab ajakannya, kak Ronald berkata, “Tenang… Aku bukan orang jahat seperti orang tadi.” Ia pun tertawa. Mau tak mau aku pun ikut tertawa.

“Oke, deh, kak!” jawabku sambil melemparkan senyumanku yang paling manis padanya.

Aku bisa berjalan dengan kak Ronald… Itu bukan mimpi. Aku bisa jadian dengannya… Kuharap itu juga bukan mimpi lagi. Sementara ini boleh, kan, bermimpi dulu?

 

* * * Selesai * * *

 

878 kata. Cerpen ini diikutkan dalam tantangan @KampusFiksi #ProsaNadimu yang diselenggarakan tanggal 1-2 November 2014.

Cerita di balik penulisan cerpen:

Sore ini, saya bertanya pada ibu saya tentang ide menulis cerpen. Saya tanyakan pada beliau sebaiknya menulis cerpen tentang apa. Ibu saya menyarankan bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Jadi saya bertanya lagi hal yang spesifiknya itu seperti apa. Ibu saya bilang apa saja boleh pokoknya tentang sesuatu yang baik-baik, tentang harapan yang baik-baik. Dan, karena hari ini kami mendapat undangan pernikahan untuk minggu depan, akhirnya saya menuliskan tentang undangan itu. Cerpen ini mengisahkan tentang Wina yang sedang berjalan sendirian dan bertemu dengan penjahat. Maksudnya adalah untuk mengingatkan pada teman-teman semua agar berhati-hati kalau berjalan sendirian dan jangan sampai berjalan sendirian di tempat yang sepi. Intinya, sih, tentang waspada terhadap kemungkinan kejahatan dan tentang mimpi atau harapan seorang gadis. 😀

Advertisements

4 thoughts on “Bukan Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s