Prompt #63: Dia

Prompt 63

Sudah bertahun-tahun lamanya sejak dia meninggalkanku. Aku masih ingat kata-katanya saat dia akan pergi meninggalkanku, “Sekarang kau sudah dewasa. Kau harus berusaha sendiri. Janganlah bergantung terus padaku.”

“Tinggallah di sini lebih lama,” ujarku, berusaha mencegah kepergiannya. “Bagaimana jika anak-anak nakal itu menggangguku lagi? Bagaimana kalau aku tidak bisa mengerjakan tugas-tugasku? Bagaimana kalau …,” belum sempat kuselesaikan katalimatku, dia sudah memotongnya. “Berusahalah! Aku yakin kau pasti bisa!” Dan setelah itu, dia pergi meninggalkanku.

* * *

Bertahun-tahun aku hidup tanpanya. Bertahun-tahun aku bisa mengerjakan apapun tanpa bantuannya. Tapi, tidak kali ini. Bagaimana tidak, anak-anak yang dulu sering mengganggu kini muncul lagi dalam hidupku. Kami sama-sama sudah dewasa. Namun, kelakuan mereka tidak berubah. Malah, bertambah parah! Akhir-akhir ini mereka selalu datang untuk meminta uang padaku. Mereka juga mengancam akan melukai istri dan anakku jika aku melaporkan kelakuan mereka pada polisi. Aku benar-benar tak tahan lagi! Aku ingin dia ada di sini! Aku tahu, hanya dia yang dapat menolongku.

Aku mengaduk-aduk laci meja belajarku – meja yang masih sama seperti saat dia meninggalkanku. Aku berharap menemukan sesuatu yang dapat membuatku bisa menghubunginya. Tapi, aku tak mendapatkan apa-apa. Aku mendengus kesal, lalu melemparkan laci meja itu ke lantai. Laci itu terhempas ke lantai. Bersamaan dengan itu, seekor kucing berbulu cokelat keemasan melangkah masuk ke kamarku. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan? Aku terkejut dengan kedatangan kucing itu. Bagaimana ia bisa masuk ke rumah? Seingatku, semua pintu dan jendela tidak ada yang terbuka.

“Apa yang kau cari?” tiba-tiba kucing itu berbicara, membuatku semakin terkejut. Kucing hantukah ini?

Kucing itu berjalan mendekatiku. Aku mundur beberapa langkah.

“Kau tidak berubah! Masih saja penakut seperti dulu,” kata kucing itu lagi, masih menatapku dengan tatapan garang.

Keringat dingin mulai mengucur membasahi sekujur tubuhku. Kaki dan tanganku gemetaran. Gigi-geligiku bergemeletukan. Aku membetulkan letak kacamata minusku dan menyeka keringatku. Sial! Kenapa di saat seperti ini suaraku malah tak bisa keluar?

Jantungku berdegup semakin kencang ketika ia berjalan ke arahku. Satu langkah ia maju. Satu langkah aku mundur. Hingga akhirnya, punggungku menabrak dinding. Aku tersudut.

Kucing itu menyeringai padaku, menampakkan taring-taringnya yang tajam. Ia mendesis, “Kau tersudut! Tak ada jalan keluar bagimu!” Ia terkekeh. Aku terduduk ketakutan.

Tiba-tiba,ย kucing itu melompat ke arahku. “Aaarrgghh!!” teriakku. Bersamaan dengan teriakanku, terdengar bunyiย POPPSS!! Dan seketika, asap menyelimuti kamarku.

“Kejutan!!” Sebuah tubuh bulat jatuh menindihย tubuhku. Di balik asap yang kian memudar, kulihat dia. Mata bulat itu… Hidung bulat itu… Senyum lebar itu… Suara itu….

“Doraemon!!” teriakku. “Nobitaaa!!” teriaknya. Dan, kami pun berangkulan. Aku tahu, dia pasti akan datang untuk menolongku.

* * *

Fiksi ini diikutkan dalam Monday Flash Fiction. Info klik di sini. Sumber gambar klik ini.

Advertisements

22 thoughts on “Prompt #63: Dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s