Prompt #61: Momen

 

“Sepuluh menit lagi aku masuk ke dalam, ya.”

“Jangan, Mas. Lima belas menit lagi saja. Oke?”

“Baiklah. Lima belas menit.”

Waktu yang sedikit itu benar-benar berharga. Dalam sekian detik, banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan. Namun, yang kami lakukan hanya saling berdiam diri. Tak sepatah kata terucap baik dari bibirnya, pun dari bibirku. Hanya saling menatap dan bergandengan tangan. Sejuta makna tersirat dalam hening dan diam itu.

Sayangnya waktu tak bisa diajak kompromi. Ia terus mengalir. Tanpa ampun walau kau memohon agar ia berhenti barang sejenak saja. Tak ada basa-basi. Ia terus melaju walau kau sudah bersujud dan bersimbah air mata darah demi memohon padanya untuk berhenti.

“Sudah waktunya aku pergi. Pesawat akan segera berangkat. Jaga dirimu baik-baik, ya,” katanya ketika tiba waktunya.

“Baik, Mas. Mas juga jaga diri baik-baik di sana, ya,” kataku.

“Aku akan mengirim kabar setibanya di sana.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dengan berat hati kulepaskan genggaman tanganku dan membiarkan ia pergi. Kulihat ia melambaikan tangannya. Ia tersenyum. Senyuman yang paling indah. Aku tak beranjak dari tempatku berdiri sampai bayangannya menghilang dari hadapanku.

Itu… Satu tahun yang lalu. Momen ketika aku mengantarkan kekasihku pergi. Ia pergi untuk melanjutkan studi S2-nya di luar negeri. Biayanya dari perusahaan tempat ia bekerja. Awalnya, aku menyarankan agar ia kuliah di dalam negeri saja. Toh, kualitas universitas di dalam negeri tak kalah dengan universitas di luar negeri. Lagipula, biaya kuliah di dalam negeri tidak terlalu mahal. Jaraknya juga tidak terlalu jauh sehingga kami tetap bisa bertemu walau tidak sering. Tapi, apa mau dikata, lelaki pujaan hatiku itu lebih memilih saran dari atasannya.

Tiga jam berlalu sejak keberangkatannya. Aku menunggu dengan cemas di kamarku sambil memegangi ponselku. Tak ingin melewatkan waktu barang sedetik saja saat pesan yang kutunggu-tunggu tiba. Namun, pesan darinya tak juga tiba. Rasa khawatirku semakin memuncak ketika ibuku tiba-tiba berteriak memanggilku dari ruang tamu.

“Risa! Risa! Cepat ke mari! Lihat berita di televisi sekarang!”

Dengan tergopoh-gopoh aku berlari ke ruang tamu dan melihat berita yang dimaksud.  Berita yang sangat mengejutkan. Sebuah kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan yang sama dengan pesawat yang ditumpangi Mas Yoga. Tubuhku mendadak kaku. Tak percaya. Aku menangis sejadi-jadinya setelah mengetahui peristiwa yang menimpa dirinya.

Momen itu… Satu tahun yang lalu. Momen antara hidup dan mati. Sesuatu yang tadinya kugenggam erat pada akhirnya harus kulepas. Jika memungkinkan, ingin rasanya aku memutar balikkan waktu. Memanggilnya untuk kembali. Meneriakkan kata agar ia tak jadi pergi. Ingin aku tetap menggenggam erat tangannya dan takkan kulepas. Jika saja aku bisa…

Layar laptopku masih dihiasi foto dirinya. Betah kuberlama-lama dihadapan layar ini tanpa mengerjakan apa-apa. Ya, hanya untuk merasakan kembali momen saat kami masih bersama. Hanya untuk mengenang momen-momen indah dan penuh warna. Sebuah momen antara aku dan dirinya…

 

* * *

Jumlah kata: 448

Fiksi untuk Writing Prompt dari MondayFlashFiction

Sumber gambar: mondayflashfiction.blogspot.com (sketsa oleh mbak Carolina Ratri)

Advertisements

11 thoughts on “Prompt #61: Momen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s