Kitab Terlarang

1879.

Aku meneliti buku-buku yang terpajang di rak perpustakaan, mengambilnya satu per satu, membaca judulnya, membolak-balik untuk melihat isinya, lalu meletakkannya kembali ke rak. Cukup lama aku berada di sini. Mungkin sekitar 3 jam. Lilin yang kupegang sudah hampir habis. Namun, buku yang kucari belum juga kutemukan.

Buku itu bukan buku biasa. Tak seorang pun tahu apa judulnya. Yang pasti, guruku pernah mengatakan tentang sesuatu yang aku cari itu. Minggu lalu, beliau mengajarkan tentang dimensi yang berbeda. Bukan tentang dua dimensi ataupun tiga dimensi. Tapi, empat dimensi. Ya, ada yang namanya dimensi keempat.

Guruku memang tak pernah menyebutkan dari mana ia tahu tentang dimensi keempat itu. Aku hanya menebak saja beliau pasti tahu hal itu dari buku. Karena, tak mungkin ia mengajarkan sesuatu yang bukan dari buku. Dari mana beliau tahu, kan? Dan, aku tahu tebakanku pasti benar.

* * *

“Guru, bolehkah saya meminjam buku tentang dimensi keempat yang pernah Anda ajarkan di kelas?” Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Guruku beberapa hari yang lalu.

Guruku memandangku sekilas. “Buku itu bukan buku biasa. Aku tak bisa memberikannya pada sembarang orang. Jika buku itu jatuh ke tangan orang yang tak bertanggung-jawab, maka….,” beliau tak meneruskan kalimatnya. Matanya menerawang jauh.

“Maka…. Apa yang akan terjadi, Guru?” tanyaku, penasaran.

“Akan terjadi hal yang tak diinginkan. Sesuatu yang berbahaya,” jawabnya sambil menghela napas. Ia menatapku lalu menepuk pundakku. “Lanjutkan saja belajarmu tentang hal lain. Mengenai dimensi keempat itu, tak perlu dibahas lagi. Itu hanya pengetahuan tambahan saja,” katanya.

* * *

Di sinilah aku sekarang. Mengendap-endap masuk ke perpustakaan sekolah demi mencari tahu tentang buku itu. Rasa penasaran bisa membunuhku jika tak segera kuobati. Berhari-hari aku tak bisa tidur lantaran memikirkan apa sebenarnya dimensi keempat itu.

Aku rela mengendap-endap masuk ke perpustakaan di tengah malam demi menghancurkan rasa penasaranku. Sekolah sepi. Tak ada penjaganya. Dengan berbekal sebuah lilin, aku bisa masuk dengan mudah ke dalam perpustakaan yang letaknya di area belakang sekolah.

‘Hmmm… Di mana buku itu?’ tanyaku dalam hati. Aku menyandarkan badanku di salah satu rak yang menempel ke tembok karena kelelahan berjam-jam mencari buku yang aku tak tahu judulnya itu.

KRAK! KRAK! Tiba-tiba terdengar bunyi berderak-derak. Rak yang aku sandarkan bergerak ke belakang. Aku terkejut. Kulihat di belakang rak yang bergerak ada sebuah ruangan. ‘Ruang rahasia?’ pikirku. Aku melangkah masuk ke ruangan itu.

Ruangan itu tidak terlalu besar. Ukurannya sekitar 4 meter x 3 meter. Di tengah ruang rahasia itu ada sebuah meja besar. Di salah satu sisi meja ada sebuah kursi. Dan di atas meja tersebut ada sebuah buku tebal yang nampak usang. Aku mengarahkan lilinku yang tinggal 5 senti meter ke buku tersebut untuk melihat judulnya. “Kitab Perjalanan Ruang dan Waktu.” Di bagian bawah sampul buku tersebut ada tulisan yang berbunyi: “Kitab Terlarang. Jangan membaca kalimat terakhir di halaman paling belakang buku ini!”

‘Kitab Terlarang?’ gumamku dalam hati. Rasanya aku ingin tergelak. Lucu sekali. ‘Memangnya apa yang akan terjadi jika membaca buku ini?’ pikirku. Lalu, tanpa ragu-ragu aku membuka buku itu dari halaman pertama ke halaman berikutnya.

Dari buku tersebut aku mengetahui bahwa dalam ruang dan waktu, jaring-jaring koordinat melebar hingga 3+1 dimensi. Itulah sebabnya waktu disebut sebagai dimensi yang keempat. Dalam sebuah koordinat, tiga dimensi terdiri dari panjang, lebar, dan tinggi. Jika dimasukkan waktu ke dalam jaring-jaring koordinat, maka ia menjadi 3+1 dimensi. Dengan ini, koordinat dapat menspesifikasikan “di mana” dan “kapan” suatu kejadian terjadi.

Aku berhenti membaca. Sebentar. Untuk merenungkan arti dari kalimat-kalimat yang baru saja kubaca. Lalu, aku teringat dengan kalimat di sampul buku tersebut. Kitab Terlarang. Aku sudah hampir selesai membaca buku yang ada di hadapanku. Tapi… Tak ada yang terjadi di sini. Aku masih di sini. Aman. Tenteram. ‘Larangan? Larangan apa? Omong kosong!’ pikirku.

Aku kembali menekuni buku yang disebut kitab itu. Dan, sampailah aku pada halaman terakhir buku tersebut. Di halaman terakhir, aku melihat sebuah kalimat dengan huruf yang berukuran kecil. Aku memicingkan mataku untuk membacanya.

BRAK! Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Siapa itu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah itu Guruku? Jika itu memang beliau…. Oh! Apa yang harus aku lakukan sekarang?? Apa yang akan aku katakan pada beliau jika beliau melihatku di sini?? Aku melihat ke sekelilingku. Tak ada tempat untuk bersembunyi. Celaka!! Bagaimana ini?

Suara langkah kaki terdengar semakin jelas. Tak! Tok! Tak! Tok! Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin membasahi tubuhku. Pada saat panik yang luar biasa itu tiba-tiba aku dapat melihat dengan jelas huruf-huruf berukuran kecil di buku yang kupegang. Aku membacanya dalam hati. ‘wu.. shan.. u.. ba.. er.. chi..’

“Siapa yang ada di sini?” kata seseorang yang baru saja masuk ke perpustakaan. Ia melangkah masuk ke ruang rahasia. Hening. Sebuah lilin tergeletak di atas meja. Terlihat asap mengepul di ujung sumbu lilin pertanda lilin itu belum lama padam. Tak ada siapapun di ruang itu. Laki-laki tua berjanggut putih panjang itu melihat buku yang terbuka di tengah-tengah meja.

“Seseorang telah mengucapkan mantra ruang dan waktu,” gumamnya. “Ia tak akan bisa kembali lagi ke sini….,” desahnya. Lalu, ia menutup buku itu dan melangkah meninggalkan ruangan itu. Tangannya yang keriput menekan sebuah tuas di samping sebuah rak buku. Rak buku yang merupakan pintu masuk ke ruang rahasia pun tertutup.

* * *

2014.

Nampak cahaya-cahaya gemerlapan di tengah malam. Cahaya-cahaya itu bergantung di tiang-tiang yang tinggi. Juga, ada yang menempel di rumah-rumah dan sesuatu yang bentuknya besar. Kotak besi berjalan di sana-sini. Di dalamnya ada beberapa manusia. Di sana-sini terdengar bunyi yang asing. Tiiinnn! Tiiiiinnnn! Sungguh memekakkan telinga!

“Di mana aku? Di mana ini? Kenapa semua nampak aneh??” aku berteriak histeris melihat pemandangan di hadapanku. Ini sungguh berbeda dari duniaku. Apa itu yang menjulang sampai ke langit? Apa itu yang bersinar-sinar dari kejauhan?? “Aaagghhh! Tidaaaakkk!!! Kembalikan aku ke duniakuuuu!!”

* * * Selesai * * *

Cerpen ini diikutkan dalam tantangan @KampusFiksi #DimensiFiksi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s