Minyak Kayu Putih

Kiri. Kanan. Atas. Melayang ke sana dan ke mari. Botol minyak kayu putih itu di lempar dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Aku mencoba menangkapnya, namun tak berhasil. Sekarang, napasku tersengal-sengal. Mataku berkunang-kunang. Kulihat mereka tertawa. Mengejek.

“Hahaha! Ayo tangkap kalau kamu bisa!” teriak salah satu dari mereka.

Aku menatap mata anak itu. Tajam. “Kembalikan botol minyak kayu putihku!!” teriakku pada mereka.

Anak yang tertawa itu melemparkan botol minyak kayu putih ke arahku. Aku mencoba menangkapnya.  Ah! Terlalu tinggi. Botol itu mendarat di tangan salah satu dari mereka. “Kembalikan!!!” teriakku lagi.

Anak yang memegang botol minyak kayu putih itu melangkah ke arahku. “Kembalikan? Baiklah, akan aku kembalikan. Tapi…,” ia tak melanjutkan kata-katanya. Lalu, ia melirik ke teman-temannya yang lain. Anak-anak yang lain menganggukkan kepala mereka. “Mintalah dengan baik. Jangan berteriak seperti itu,” bisiknya di telingaku.

“Tidak!” teriakku lagi. Lalu aku mencoba merampas botol di tangan anak itu. Naasnya, tanganku kalah cepat dari tangannya. Refleks ia melemparkan botol itu ke temannya yang lain. Anak yang menerima botol itu tertawa terbahak-bahak. Aku mengejar botol minyak kayu putihku ke arah anak itu.

Tapi, apa yang kulihat di depanku menghentikan langkahku. “Tidaaakkkk!!!” teriakku sekencang-kencangnya saat anak itu membuka tutup botol minyak kayu putihku dan menuangkan isinya ke lantai. Setelah isinya keluar semua, ia melemparkan botol itu ke arahku. Sambil tertawa terbahak-bahak, ia dan anak-anak lainnya meninggalkanku yang sekarang terduduk di lantai kelas.

Sekolah sudah sepi. Aku masih terduduk di lantai kelasku sambil terisak. Tawa anak-anak tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku. Aku memandang botol minyak kayu putihku yang kosong dengan pandangan nanar. Air mata mengalir deras di pipiku. ‘Bagaimana aku bisa hidup tanpa minyak kayu putihku?’ Saat itu, seseorang memandangku dari jendela kelas. Aku menoleh. ‘Kak Bagas?’ Cowok yang aku sukai itu lalu berlalu tanpa berkata apa-apa.

Aku melangkah keluar dari kelasku sambil menggenggam botol minyak kayu putihku yang telah kosong. Ah, botol ini telah kosong. Harapanku untuk menjadi seseorang yang spesial bagi Kak Bagas juga kosong. Ia pasti melihat insiden minyak kayu putih tadi. Bodohnya aku bisa menjadi bulan-bulanan lantaran aku tak bisa lepas dari minyak kayu putih. Tak ada harapan lagi untuk bisa dekat dengan Kak Bagas karena kebodohan itu! Padahal, beberapa minggu terakhir ini kami sudah mulai dekat. Aku tahu segalanya tentang dia, begitu pun dengannya. Hanya minyak kayu putih ini yang ia tak tahu. Ugh! Menyebalkan!

“Adinda!” seseorang memanggilku. Aku menoleh. “Kak Bagas?”

“Ini,” katanya sambil menyodorkan sesuatu padaku. Aku melihat benda di tangannya. Sebotol minyak kayu putih yang sama dengan milikku. Botol itu masih baru. “Pakai ini untuk menenangkan hatimu,” lanjutnya.

Aku mengambil botol itu dengan ragu. Bagaimana ia bisa tahu aku selalu menggunakan minyak kayu putih untuk menenangkan hatiku yang sedang kacau?

“Sudah lama aku memperhatikanmu. Aku melihatmu sering menggunakan ini,” katanya seperti tahu apa isi hatiku. “Maaf aku tak bisa menyelamatkanmu dari anak-anak nakal itu. Aku terlambat,” katanya lagi.

Aku membuka tutup botol minyak kayu putih dan menyesap baunya dalam-dalam. Aaah! Seketika perasaanku menjadi tenang. “Terima kasih, Kak.”

#StilettoGift Agustus 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s