Peracik Rasa

“Hai teman-teman, mohon perhatiannya sebentar. Tolong follow akun Ask.fm teman saya yang cantik dan imut ini. Nama akunnya Jenitasuperimut. Nggak pakai spasi. Please difollow, ya. Tengkiuuu!” seru Dina saat kami sedang nongkrong di warung bakso di area kantin sekolah. Wajahku mendadak merah padam karena malu. Dan lebih malu lagi karena saat itu ada kakak kelas yang aku sukai juga sedang berada di warung itu.

“Gila kamu, Din! Masa kamu ngiklanin akun aku di hadapan orang-orang di sini? Mana di sini ada kak Tyo pula!” bisikku padanya.

“Justru karena ada kak Tyo makanya aku ngiklanin akun kamu. Biar dia bisa follow akunmu,” jawab Dina dengan santainya.

“Apa?” kataku tak percaya.

“Sorry, Jen. Aku cuma berharap kak Tyo bisa add kamu sebagai temannya. Biar kamu bisa pedekate ke dia kalau kamu sudah tahu nama akunnya,” jelas Dina.

Bukannya aku tak berterima kasih pada sahabatku yang super ajaib ini. Tapi… aku benar-benar malu dibuatnya. Memang, sih, sejak kejadian satu bulan yang lalu itu, aku jadi punya banyak follower di Ask.fm. Aku juga jadi punya banyak penggemar tanpa nama yang sering memberikan pertanyaan yang lucu. Sayangnya, belum ada orang yang memunculkan namanya dengan nama Tyo.

“Din, kok, nggak ada orang yang namanya Tyo di akun Ask.fmku, ya?” tanyaku pada Dina suatu hari saat kami sedang nongkrong di warung bakso langganan kami.

“Mau aku tanyakan padanya?” kata Dina.

“Jangan! Jangan! Nggak usah!” seruku.

“Kalau begitu aku tanyakan pada temannya saja,” kata Dina.

Aku pasrah saja saat Dina yang dengan pedenya menuju meja tempat teman-teman kak Tyo sedang berkumpul. Aku mengikutinya dari belakang untuk mencuri dengar apa yang dikatakannya pada teman-teman kak Tyo. Setelah itu, aku menuju ke meja pemesanan bakso. “Mas, pesan baksonya dua mangkok, ya,” kataku pada penjaga warung yang juga merupakan siswa sekolahku. Warung bakso ini dijaga oleh beberapa siswa kelas X dan XI sebagai program latihan Wira Usaha. Tapi, yang membuat baksonya bukan siswa-siswa itu. Para siswa hanya menjadi pelayan dan kasir saja.

“Jen, aku sudah dapat nama akun Ask.fm-nya kak Tyo!” seru Jeni begitu aku duduk di sampingnya.

Aku membelalakkan mataku. Sahabatku yang satu ini memang benar-benar ajaib!

* * *

Sejak itu, aku melancarkan aksi pedekateku pada kak Tyo melalui akun Ask.fm. Tentu saja aku belum berani menampakkan namaku saat memberikan pertanyaan padanya. Dari jawaban-jawaban yang diberikan kak Tyo, aku jadi tahu bahwa dia sedang mendekati seseorang. Aku juga menanyakan tipe cewek seperti apa yang disukainya. Jawabannya sangat mengejutkan, dia suka tipe cewek seperti aku!

Aku sedikit lega mengetahui bahwa aku adalah tipenya. Lalu, entah mengapa aku merasa dia mendekati aku gara-gara ada sebuah akun dengan nama PeracikRasa yang gencar mengirim pertanyaan di akunku. Tak ada foto wajahnya di akun itu. Hanya ada foto semangkok bakso di profilnya. Lagipula akun itu tahu segalanya tentang apa yang aku lakukan di warung bakso. Aku merasa akun itu milik kak Tyo yang sedang menyamar untuk mendekatiku. Aku tipenya, kan? Memang sih, saat aku dan kak Tyo sedang nongkrong di warung bakso, dia cuek saja. Paling-paling dia hanya tersenyum jika kebetulan kami berpapasan. Tapi, boleh saja, kan aku berbangga diri?

* * *

“Kak, dengar-dengar gosip, kakak jadian dengan anak kelas X A, ya?” Melihat pertanyaan itu di akun Ask.fm kak Tyo membuat kepalaku berdenyut-denyut. Denyut itu semakin kencang tatkala aku membaca jawaban dari kak Tyo. “Iya. Anon kok tahu?”

Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! teriakku dalam hati. Bagaimana bisa? Jadi, siapa si PeracikRasa itu jika bukan kak Tyo? Padahal selama ini, aku merasa sudah dekat dengan si PeracikRasa itu. Dan aku merasa dia adalah kak Tyo. Aaagghhh!!! Kepalaku mendadak pusing. Dunia serasa berputar.

Tiba-tiba ponselku berdenting. Ada satu pertanyaan masuk di akun Ask.fmku. Tanpa semangat aku mengklik ikon tanda tanya. Rupanya si PeracikRasa yang bertanya. “Hai, lagi apa?”

“Aku lagi sedih. Siapa sebenarnya kamu? Kalau berani, tunjukkan wajahmu!” jawabku kesal. Tiba-tiba aku merasa sangat bodoh.

“Jangan sedih, dong! Bagaimana kalau besok kita ketemuan saja di warung bakso sepulang sekolah,” balas si PeracikRasa.

“Oke,” jawabku.

* * *

Keesokan harinya, aku tidak menceritakan tentang kak Tyo maupun soal si PeracikRasa pada Dina. Aku tak ingin sahabatku itu khawatir. Saat Dina mengajakku ke warung bakso pada jam istirahat, aku menolaknya dengan alasan ingin belajar untuk ulangan. Dina yang berbeda kelas denganku akhirnya kembali ke kelasnya.

Pelajaran di sekolah terasa amat panjang. Berkali-kali aku melirik jam tanganku. Rasanya jam berhenti berputar. Lama sekali menunggu waktu pulang. Dan, ketika akhirnya bel pulang sekolah berbunyi, aku bernapas lega. Aku langsung berlari ke kelas Dina untuk mengajaknya ke warung bakso dan menemaniku untuk bertemu dengan si PeracikRasa.

“Jen, aku ada kerja kelompok sepulang sekolah ini. Nggak apa-apa, kan, kamu pulang sendiri?” Belum sempat aku berkata apa-apa Dina langsung nyerocos saat melihatku berdiri di depan pintu kelasnya.

“Eh, oke,” jawabku. Kecewa.

Aku melangkahkan kakiku pelan-pelan menuju ke warung bakso. Lesu dan gugup bercampur menjadi satu. Lesu karena tak ada sahabat yang menemaniku, lesu mengingat kak Tyo ternyata sudah jadian dengan adik kelas, dan gugup karena akan bertemu dengan si PeracikRasa.

Tak banyak orang yang ada di warung bakso ketika aku tiba di sana. Aku mengambil tempat duduk yang menghadap ke jendela sambil mengira-ngira siapa si PeracikRasa itu. Mungkin dia masih di kelas, pikirku. Sambil menunggu si misterius itu datang, aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas. Dan, aku pun larut dalam salah satu permainan di ponselku.

“Ini pesanannya, Mbak,” seseorang tiba-tiba memanggilku dan meletakkan semangkok bakso di hadapanku.

Aku menatap mangkok bakso dan si pengantar. Bingung. “Aku belum memesan apa-apa,” kataku padanya.

Siswa pelayan itu duduk di sampingku. “Ini dari si PeracikRasa. Khusus buat Jenitasuperimut.”

Aku bengong menatap wajah cowok yang sedang duduk di sampingku. Tak percaya. Cowok ini memang selalu mengantarkan bakso pesananku dan Dina.

“Kenalkan, aku Alvin, kelas XI IPA B, si PeracikRasa yang selalu kepo di akun Ask.fm-mu,” katanya sambil mengulurkan tangannya padaku.

Aku menyambut uluran tangan cowok bermata indah dan berhidung mancung itu. “Aku Jeni, kelas XI IPS C.”

“Mulai sekarang, kita berteman?” tanyanya.

Aku menganggukkan kepalaku.

“Kalau begitu, bakso ini gratis! Aku yang traktir!” katanya sambil tersenyum.

——————————

Cerpen ini diikutkan dalam Tantangan @KampusFiksi #EhemKenalan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s