Kerupuk

“Hey, sini! Ayo makan aku!”

Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Suara itu sejak tadi siang memanggil-manggilku tanpa ampun. Tak pernah berhenti dan tak bosan-bosannya.

“Aku enak, lho! Yuk, makan aku!”

Ugh! Rasanya aku ingin menutup telingaku supaya tidak mendengar suaranya lagi. Tapi, apa dayaku ternyata suara itu malah semakin menggema di kepalaku.

Air liurku menetes kala melihat satu toples kerupuk di atas meja. Warnanya putih mengkilap. Ulir-ulirnya rapi. Kerupuk-kerupuk itu nampak gurih. Apalagi ia tidak digoreng, melainkan dipanggang dengan microwave. Rasanya lebih enak daripada kerupuk yang digoreng dengan minyak.

“Ayolah. Aku tahu kau suka padaku. Ke marilah. Ambil aku satu dan makanlah!”

Tidak! Tidak! Aku ada di sini bukan untuk makan kerupuk! Kerupuk itu jatah untuk adikku yang sudah lama tidak memakannya. Aku kan bisa makan kerupuk jika aku pulang kampung nanti. Tapi kalau adikku, belum tentu setahun sekali ia pulang kampung.

“Satu saja. Ayolah! Tidak dosa, kok, kalau cuma makan satu! Adikmu pasti mengerti!”

Hmmmm…. Lama aku berpikir. Dan aku putuskan untuk tidak mengambil kerupuk itu walau cacing-cacing dalam perutku sudah berteriak-teriak minta makan.

Tuh, kan, alasan lagi. Tadi beralasan si kerupuk yang memanggil-manggil. Sekarang, beralasan lagi si cacing yang berteriak-teriak minta makan. Maunya apa, sih?

Maunya? Ya makan kerupuk itu.

NL, 10 Juli 2014

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s