Hasil Akhir

Siang itu cuaca sangat panas. Seperti biasa, di siang hari aku akan berkumpul untuk makan siang bersama ketiga sahabatku – Cici Cacing, Leli Lebah, dan Berry Berang-berang.

“Cuaca semakin panas, ya,” kata Cici Cacing.

“Lebih panas lagi karena sebentar lagi akan ada Pemirah,” ujar Leli Lebah.

“Iya, semua heboh membicarakan siapa yang lebih pantas untuk menduduki singgasana Kerajaan Hutan. Debat ini-itu, bahkan ada yang sampai berkelahi gara-gara ngotot pilihannyalah yang terhebat,” jelas Berry Berang-berang.

“Jadi, kalian akan pilih siapa?” tanya Leli Lebah.

“Kalau aku, sih, lebih condong memilih Simba Singa. Dari zaman dahulu, yang namanya raja hutan itu adalah singa. Nggak ada yang lain. Hanya saja, beberapa dekade ini negara kita mengalami revolusi sehingga siapapun bisa menjabat sebagai Raja Hutan,” jawab Cici Cacing.

“Ya, betul. Raja Hutan yang sekarang si Ronney Harimau cukup bagus dalam memimpin negara. Tapi harus ada yang lebih tegas lagi. Apalagi zaman sudah berubah. Hutan tempat tinggal kita sekarang sudah tidak seluas dulu. Manusia-manusia menebang pohon seenaknya. Kalau tidak punya pemimpin yang tegas, lama-kelamaan penghuni hutan ini akan habis!” ujar Berry Berang-berang.

“Betul. Jadi, kamu pilih siapa?” tanya Leli Lebah pada Berry Berang-berang.

“Ya tentu saja pilih Kano Kancil. Dia itu cerdik dan pandai. Kepandaiannya itulah yang dibutuhkan negeri ini sekarang,” jawab Berry Berang-berang.

Sementara teman-temanku masih membicarakan calon-calon raja hutan, aku memperhatikan mereka sambil makan siang dan berkipas-kipas dengan sayapku akibat cuaca yang panas. Jujur saja, aku tak berminat untuk membicarakan Pemirah atau Pemilihan Raja Hutan. Entah mengapa aku lebih memikirkan nasib hutan ini dan Global Warming yang kata manusia pintar menyebabkan panasnya bumi ini. Karena, beberapa hari yang lalu saat aku terbang untuk mencari makan, aku melihat mobil-mobil besar yang sedang menghancurkan hutan bagian utara.

Bagaimana nasib sahabat-sahabatku yang tinggal di sana, tak ada yang tahu. Semua seolah-olah tak peduli. Semua hanya peduli dengan Pemirah. Sedangkan aku sendiri, tak tahu harus berbuat apa. Aku masih memikirkan cara untuk menolong teman-temanku di utara.

* * *

Hari Pemirah pun tiba. Semua hewan berkumpul di pusat hutan untuk menggunakan hak suara mereka. Pemirah ini tidak seperti Pemilunya manusia yang memakai kertas suara lalu dicoblos. Kami warga hutan memakai cara yang sederhana, yaitu perhitungan langsung. Di tengah-tengah pusat hutan ada sebuah panggung. Kedua calon raja hutan duduk di tengah-tengah. Di hadapan masing-masing calon raja hutan itu diletakkan batok kelapa. Warga memilih dengan cara meletakkan selembar daun ke dalam batok kelapa itu. Sedangkan Ronney, Raja Hutan sebelumnya, menjadi pengawas. Siapa tahu ada warga yang curang meletakkan lebih dari satu lembar daun ke dalam batok kelapa calon raja hutan yang dipilihnya.

Setelah selesai memilih, aku terbang ke hutan bagian utara untuk melihat keadaan di sana. Beberapa warga ada juga yang pulang mencari makan. Tapi sebagian besar warga masih berkumpul di pusat hutan untuk melihat perhitungan lembaran daun.

Alangkah terkejutnya aku saat melihat keadaan di hutan bagian utara. Api berkobar sangat besar! Lidah-lidah api menjilati semua yang ada di sana.

“Oh, tidak!” pekikku sambil terbang menukik tajam turun ke bawah.

Di sana aku melihat kawanan monyet lari pontang-panting. Gajah-gajah, kuda, dan beberapa hewan lainnya nampak panik. Mereka berlarian ke sana-ke mari tak tentu arah. Panasnya kobaran api membutakan mereka akan arah yang mana yang harus mereka lalui untuk menyelamatkan diri.

“Hei semuanya. Dengarkan aku!” teriakku sekuat tenaga. Seketika mereka berhenti berlarian.

“Ke arah sana!” teriakku lagi sambil menunjukkan ke arah mana mereka harus berlari.

Hewan-hewan itu berlari ke arah yang aku tunjuk. Lalu, aku melihat-lihat keadaan sebentar. Setelah merasa tidak ada lagi hewan yang membutuhkan bantuan, aku terbang kembali menuju pusat hutan untuk mengabarkan apa yang terjadi.

Saat aku tiba di sana, rupanya warga sedang meributkan perhitungan daun yang jumlahnya sama. Masing-masing ingin calonnya menang. Ronney Raja Hutan mencoba menenangkan mereka. Namun, suaranya kalah oleh ributnya suara warga.

Mereka hampir saja bentrok ketika tiba-tiba ada suara hewan berteriak dari belakang untuk menenangkan mereka. “Hentikan semua keributan ini!” Seekor gajah maju ke panggung. Beliau adalah tetua di hutan ini. “Tahukah kalian, selama kalian ribut di sini, saudara-saudara kita di daerah utara mengalami kejadian yang buruk. Kalau saja Elroy Elang tidak datang menolong, kobaran api pasti sudah menghanguskan mereka semua!”

“Benar! Berkat Elroy Elang, kami semua selamat,” seru beberapa warga hutan dari utara yang baru tiba dengan napas terengah-engah.

“Menurutku, Elroy Elanglah yang pantas memimpin kerajaan hutan ini. Dia terjun langsung untuk melihat keadaan warga. Juga langsung membantu mereka ketika dibutuhkan. Inilah yang kita perlukan saat ini,” lanjut gajah tetua.

Warga hutan terdiam. Mereka saling berpandangan. “Setuju!” Tiba-tiba seekor keledai berteriak. Teriakannya itu disambut oleh sorakan warga lainnya. Sesaat kemudian suasana hutan gegap-gempita menyorakkan namaku. “Elroy! Elroy!”

* * *

Di sinilah aku berada sekarang. Bertengger di puncak pohon paling tinggi di hutan -memantau keadaan negeriku. Akan kulakukan segala hal yang dapat memajukan dan melindungi warga dan negaraku. Aku tahu ini bukanlah hal yang mudah. Tapi, jika aku punya tekad dan usaha yang keras, aku pasti bisa menjalaninya.

———-
Tulisan ini diikutsertakan dalam event #DramatisasiPolitik oleh @KampusFiksi

NL, 6 Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s