Bawalah Aku

Tempatku yang sekarang adalah sudut yang gelap, lembab, dan penuh sesak. Juga bau. Ya, bau apak akibat banyaknya kecoa yang berseliweran ke sana-ke mari. Dijamin tak akan ada yang dapat bertahan di sini jika tak punya tekad kuat untuk bertahan hidup.

Aku menjadi penghuni sudut ini baru satu tahun. Baru jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya di sini. Beberapa di antara mereka ada yang bertahan lebih dari lima tahun di sini – hidup. Namun, ada juga yang sudah tak bernyawa lagi -mati termakan usia atau karena tak tahan dengan bau dan dinginnya tempat ini.

Apa mau dikata, keadaan menghendaki aku tinggal di sini. Ini bukan kemauanku. Ini semua karena dia. Dia yang memilihku. Dia juga yang mencampakkan aku. Setidaknya begitu sampai saat ini. Walaupun dalam hati aku berharap dia akan kembali berpaling padaku.

Masih kuingat saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu, seperti biasa aku sedang duduk bersama teman-temanku. Tempat kami mangkal adalah sebuah toko di kompleks pertokoan elit. Hanya di sanalah orang-orang dapat menemui aku dan teman-temanku. Karena, kami tak akan ada di tempat-tempat yang biasa saja.

“Ah, cantik sekali!” serunya saat itu. Matanya berbinar-binar ketika memandangku. Terpesona, seakan-akan aku adalah seorang dewi yang turun dari khayangan. “Aku pasti akan memilikimu!” bisiknya padaku.

Beberapa kali dia bolak-balik untuk menemuiku. Dia hanya menatapku, menatap dengan pandangan terpesona. Tatapan yang selalu kutunggu. Aku pun balas menatapnya saat matanya tertuju padaku. Berdebar rasanya. Mungkin, ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.

Suatu ketika, ada seseorang yang juga menatapku. Tapi, aku tak suka orang itu karena aku masih memikirkan dia. “Hmmm…. Cantik. Tapi, tak cocok untukku,” kata orang itu setelah mengamat-amatiku untuk beberapa saat. ‘Huft!’ aku menarik napas lega karena ia tak jadi memilihku. Aku tetap menunggu si dia, cinta pandangan pertamaku. Aku berharap dia akan segera datang menjemputku.

Harapanku akhirnya terkabul. Tak lama setelah orang kedua itu datang, dia datang untuk menjemputku. Dia menimang-nimangku bagaikan seorang ibu menimang bayinya yang lucu. Bisa kulihat dari sorot matanya dia nampak bahagia. Wajahnya sumringah. Begitu pula denganku, sungguh bahagia. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah jambu dan menyerahkannya ke kasir. Setelah itu dia membawaku keluar dari toko tempat tinggalku.

Aku dibawanya pulang. “Bagus! Elegan! Menawan!” kata ibunya saat dia memperkenalkan aku pada beliau. Diletakkannya aku di tempat yang khusus dibuatnya untukku, tempat yang tak kalah elit dengan tempatku sebelumnya.

Di rumahnya, aku membuat iri penghuni-penghuni yang sebelumnya. Ada yang mencibirku karena tak suka akan kehadiranku. Bahkan ada yang mengancamku jika aku macam-macam. Mau macam-macam bagaimana? Bukan tipeku untuk membuat keributan di antara sesama. Tak ada untungnya bagiku.

Kami, penghuni kamar khusus itu, berasal dari berbagai ras. Namun, intinya kami sama. Sama halnya dengan manusia yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Tapi, kalian sama. Manusia. Jadi, tak ada gunanya membuat keributan yang menimbulkan perpecahan. Perpecahan hanya mengakibatkan penderitaan. Prinsip itulah yang lambat-laun melunakkan hati sebagian besar penghuni kamar ini. Yang tadinya mati-matian membenciku akhirnya mau berteman denganku.

Suatu ketika, seorang teman mengatakan padaku agar aku bersiap-siap untuk hal yang terburuk. Temanku juga mengatakan bahwa sudah menjadi kebiasaan si dia jika dia bosan dengan sesuatu, dia akan menggantikan apa yang sudah dimilikinya itu dengan yang baru. Tak peduli miliknya itu baru beberapa kali dipakainya. Bahkan, dia tak segan-segan akan mencampakkan miliknya itu ke tempat terpencil, gudang belakang rumahnya. Atau yang lebih parah, ke tong sampah. Mendengar hal itu, aku tak percaya. Aku yakin si dia akan tetap cinta padaku walau semakin lama aku akan semakin menua.

Setidaknya, itu dulu yang aku pikirkan – cinta akan bertahan selamanya walaupun fisikmu berubah. Rupanya temanku benar. Baru tiga bulan aku bersama si dia, si dia sudah bosan denganku. Dia mulai jarang membawaku jalan ke mana-mana. Sebagai ganti diriku, dia punya yang baru.

Sekarang, aku mengerti bagaimana perasaan teman-temanku ketika pertama kali aku di sini. Mereka iri akan keberadaanku. Mereka takut tersingkir, takut akan dibuang atau dicampakkan. Perasaan itu pula yang sekarang kurasakan. Iri akan kedatangan si baru. Takut akan dibuang. Sedih. Kecewa. Merasa tak dibutuhkan lagi. Merasa tak berguna. Dan, bertanya-tanya apa salahku padanya hingga dia tak menyukaiku lagi.

Puncaknya adalah ketika dia bertengkar dengan ibunya saat dia hendak membuangku. “Mau dibawa ke mana?” tanya ibunya. “Ke gudang,” jawabnya. “Tapi, itu masih bagus,” kata ibunya. “Aku tak suka lagi,” katanya. “Selalu begitu! Membuang-buang barang yang masih bagus. Tak bisakah kau mengubah sifatmu itu??” seru ibunya. Dia tak menggubris perkataan ibunya dan tetap membawaku keluar dari rumahnya.

Dan, di sinilah aku terdampar, di gudang belakang rumahnya. Meringkuk kedinginan. Meratapi nasib. Haruskah hidupku berakhir tragis di gudang ini? Ingin rasanya aku berteriak. Lalu, memanggil namanya, “Dulu kau yang memilihku. Sekarang, kaucampakkan aku. Apa salahku? Ke mana larinya cintamu yang dulu? Kenapa kau tega sekali padaku??” Tentu saja, dia tak bisa mendengarku. Tak akan pernah bisa. Hanya keajaibanlah yang bisa membuatnya mendengarkan rintihan perihku.

Berhari-hari aku berteriak-teriak meratapi nasibku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku meraung-raung menyalahkan takdir yang tak berpihak padaku. Semua penghuni gudang mencoba menghiburku. Tapi, ratapanku mengalahkan suara mereka.

Setelah berhari-hari mengeluarkan segala uneg-unegku, akhirnya aku lelah. Aku berhenti meraung dan meronta. Mungkin memang ini takdirku. Tak ada gunanya aku bersedih, hanya membuatku semakin stres dan menderita. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berdoa, seperti pada saat aku menginginkan dia datang menjemputku.

“Kembalilah. Aku menunggumu di sini. Lihatlah aku. Aku masih bisa berguna untukmu. Aku akan menemanimu ke mana pun kau pergi. Aku rela kau injak-injak. Bawa aku. Pakai aku. Injak aku. Aku pastikan kau tetap tampil sempurna bersamaku.”

* * *
Karya ini diikutsertakan di event #NarasiSemesta oleh @KampusFiksi

NL, 29 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s