Tanpa Jeda

Tanpa Jeda – by glowinggrant. http://bit.ly/1p5HBwG. #Thumbstory

Minggu sore. Seperti biasa aku akan menunggumu di kafe pinggir kota tempat kita tinggal. Kafe yang tak terlalu ramai, tapi menunya enak. Duduk dua meja dari sudut yang menghadap ke jendela. Menu yang sama, cappuccino ditemani brownies kukus. Alunan musik jazz live terdengar dari tengah ruangan. Sebuah novel misteri ikut menemaniku sore ini untuk mengusir rasa bosan.

Aku menunggumu di sini, lagi. Untuk mendengarkan kisah hidupmu. Kisahmu bersama wanita-wanita idamanmu, tentang pekerjaanmu, tentang keluargamu, bahkan tentang anjing peliharaanmu yang tak kunjung menurut padamu.

Bip! Nada pesan masuk di ponselku. Segera kukeluarkan ponselku dari dalam tas. “Sudah di mana?” begitu bunyi pesan yang rupanya darimu. Kuketik balasannya, “Sudah di tempat biasa.” Lalu masuk lagi sms darimu, “Oke. Tunggu aku. Sebentar lagi aku tiba di sana.”

Tak lama kemudian kau tiba. Dan seperti biasanya, dengan terengah-engah bagai habis lari bermil-mil jauhnya.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” katamu sambil langsung mengambil tempat duduk di hadapanku.

“Tak apa, ada novel ini yang menemaniku,” kataku sambil menunjukkan novel di tanganku. “Mau pesan apa?” tanyaku.

“Yang biasa saja. Nanti aku akan memesannya sendiri,” jawabmu. Lalu kau segera ke meja kasir untuk memesan pesanan biasamu, espresso dan donat bertabur kacang.

“Ada cerita apa hari ini?” tanyaku saat kau sudah kembali ke kursimu.

Kemudian, kau pun mulai bercerita. Cerita mengalir bagaikan air sungai, diiringi dengan tawa dan mimik mukamu yang kadang serius kadang lucu. Mimik muka yang selalu aku nantikan. Dan, akan selalu kurindukan tentunya.

“Jadi, kamu kenal sama Felicia? Bagus sekali kalau begitu!” katamu sambil menjentikkan jarimu. Jentikkan jari itu, artinya kau akan mulai mendekati wanita bernama Felicia itu. Padahal sebelumnya kau mengatakan kau baru putus dengan wanita lain.

“Sudah bisa melupakan Jane?” tanyaku, walau sebenarnya aku tak heran dengan kelakuanmu yang cepat berpindah hati setelah putus. Namun, aku tetap bertanya. Hanya untuk memastikan saja.

“Ya, aku akan melupakannya. Untuk apa dipikirkan lagi. Dia sudah tak suka padaku. Aku memang sakit hati, sih, karena dia memutuskanku,” katamu. Ini untuk kesekian kalinya kau diputuskan oleh wanita-wanita dalam hidupmu. “Tapi, sakit hati tak perlu berlama-lama, kan? Kalau ada penggantinya, aku tak akan merasa sakit hati lagi,” jelasmu.

“Kalau tidak cepat mendapat pengganti, itu seperti bukan dirimu,” candaku.

Kaupun ikut tertawa.

* * *

Dua minggu. Satu bulan. Tiga bulan. Begitu cepat waktu berlalu. Dan, setiap minggu kita pasti bertemu. Seperti biasa pula, aku akan selalu jadi pendengar yang setia. Lalu, kau selalu mendapat peran sebagai si pencerita.

“Bagaimana hubunganmu dengan Felicia?” tanyaku di suatu Minggu. Entah mengapa ada rasa getir setiap aku menyebutkan nama-nama wanita yang mengalir dalam hidupmu.

“Baik-baik saja. Dia baik,” jawabmu.

“Dia tahu kau ada di sini bersamaku?” tanyaku penuh selidik. Tentu saja aku tak ingin dikatakan sebagai perusak hubungan orang. Apalagi merusak hubungan percintaan sahabat sepertimu. Karena, biasanya wanita-wanita dalam hidupmu akan cemburu  dengan kehadiranku. Bagaimana tidak, kau selalu mengatakan pada mereka bahwa hari Minggu sore adalah waktu untuk sahabat. Dan, itu tak boleh diganggu gugat. Sahabatmu adalah aku, orang yang berlainan jenis denganmu yang tentu saja membuat wanita-wanita itu merasa tersaingi.

Bukan aku tak pernah menasihatimu agar tak lagi menemuiku jika kau punya seseorang yang spesial. Tapi, terlalu sering pula hatiku mengatakan bahwa aku harus bertemu denganmu di hari yang kau tentukan itu. Entah mengapa pula kau tak pernah mendengarkan nasihatku walau sudah berkali-kali kau putus dengan wanita-wanitamu lantaran mereka cemburu padaku.

Tahukah kau bahwa aku juga cemburu saat kau mengatakan kau jatuh cinta pada si A, si B, si C, dan lain-lainnya. Hati ini seperti diiris seribu belati saat kau menceritakan perihal hubunganmu dengan wanita-wanita itu. Tapi apa dayaku untuk mengatakan aku suka padamu.

Aku bukan siapa-siapa. Bukan siapa-siapa bagimu walau kau selalu memuji bahwa aku adalah pendengar yang baik bagimu. Bukan siapa-siapa walau kita selalu bertemu setiap minggu. Sahabat. Itu aku. Dan, tak akan pernah lebih dari itu. Aku sudah tahu itu.

“Heh!” suara hardikan yang datangnya dari belakangku benar-benar mengejutkanku. “Jadi di sini kau rupanya!” kata suara itu lagi. aku menoleh ke arah suara itu. Di belakangku berdiri sosok bernama Felicia. Ia menyilangkan tangannya di depan dadanya. Bibir berlipstik merahnya sudah siap meluncurkan kata-kata tambahan ketika kau bangkit dari kursimu untuk melunakkannya.

“Sabar, Fel. Bukankah aku sudah berkali-kali mengatakan padamu bahwa hari Minggu sore aku tidak mau diganggu,” katamu.

“Kau tak mau diganggu karena kau lebih mementingkan wanita ini daripada aku, hah? Padahal hari ini ada acara keluarga yang harus kauhadiri. Tapi, kau malah memilih nongkrong di sini bersama wanita yang tak tahu diri ini!” bentak Felicia.

Aku berdiri dan bersiap-siap untuk mengatakan kalimat pembelaan diri. Juga untuk menenangkan teman yang dulu pernah sekelas denganku di SMA. Tapi, kau duluan mengeluarkan pernyataan bela diri. “Tolong jangan pernah kau mengatakan hal seperti itu padanya. Dia bukan wanita seperti yang kau kira. Dia itu sahabatku, Fel!” katamu dengan nada teratur, sesuatu yang selalu membuatku salut. Jika aku berada dalam posisimu, pastilah aku sudah tersulut api kemarahan.

“Cukup! Aku tak mau dengar penjelasanmu. Sudah jelas kau lebih memilih dia daripada aku!” kata Felicia dengan nada yang lebih tinggi satu oktaf.

“Tapi…..”

Belum sempat kau menyelesaikan kalimatmu, Felicia sudah memotongnya. “Stop! Kita putus! Tak perlu menjelaskan apa-apa lagi, oke! Kita P-U-T-U-S! Putus!” Lalu wanita berambut ikal panjang itu berlalu meninggalkan kau yang masih berdiri dan aku yang masih duduk terbengong-bengong.

“Ahhhh…. Nasib!” katamu sambil mengusap-usap dahimu yang berkeringat.

“Harusnya kau membela dia tadi,” kataku, merasa tak enak karena sahabatku diputuskan pacarnya tepat di hadapanku. Baru kali ini aku melihat hal seperti ini.

“Sudahlah. Tak akan kumaafkan orang-orang yang menghinamu,” ujarmu.

Aku diam. Bingung antara sedih atau bahagia. Di satu sisi aku sedih karena sahabatku kembali mengalami patah hati. Namun di sisi lain aku bahagia karena dia membelaku. Dia lebih memilih meluangkan waktunya bersamaku – suatu hal yang membuatku masih menaruh harapan padanya.

“Hmmm… Sudah, lupakan saja!” katamu.

“Maaf,” kataku. “Gara-gara aku kau jadi putus dengannya.”

“Apa boleh buat. Berarti dia bukan jodohku. Sudahlah, tak usah dipikirkan!”

* * *

Minggu sore lagi. Kau dan aku kembali bertemu di tempat yang sama, di jam yang sama, dan dengan menu yang selalu sama setiap minggunya. Kembali bercerita tentang dirimu dan kembali mendengarkan kisahmu.

Aku, akan tetap menunggumu dan akan selalu jadi pendengar terbaikmu. Entah sampai kapan hati ini akan bertahan. Entah sampai kapan hatimu akan bosan berpetualang hingga akhirnya berlabuh di hatiku. Tak akan ada yang tahu. Yang pasti, hati ini masih akan untukmu. Tanpa jeda.

* * *

“Jadi, kau kenal dengan Marlina? Bagus sekali itu!” katamu sambil menjentikkan jarimu.

Dan, aku tahu apa artinya itu.

NL, 14 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s