Asapmu Membunuhku

Kadang kupikir dunia ini tidak adil. Di saat orang dengan bahagianya menghisap asap rokok, di sisi lain aku terbaring menderita sakit di paru-paruku. “Bronkitis!” begitu vonis dokter saat melihat hasil rontgen paru-paruku. Dan, ini yang kedua kalinya aku mendapat vonis seperti ini. Duniaku serasa jungkir-balik saat mengetahui hal ini. Aku bukan perokok. Namun, asap rokok yang masuk ke dalam paru-paruku membuatku harus menyandang gelar ‘perokok pasif.’

Sungguh tidak adil! Dulu, di saat semua saudara sepupuku pergi liburan ke pantai, aku harus tinggal di rumah karena penyakit ini. Di saat mereka semua bercanda dan bersuka-ria di tepi pantai sambil membuat istana pasir, aku harus meringkuk kesakitan di tempat tidur. Ketika semua anak-anak dengan bahagianya melahap es krim mereka, aku harus bersabar dengan berbagai macam tablet dan kapsul.

Dan ketika aku dewasa, aku harus merelakan jabatan tinggiku yang baru sebulan kudapatkan. “Tuberculosis!” begitu kata dokter waktu itu. Tablet dan kapsul pun kembali menjadi sahabat terbaikku. Selama enam bulan aku menjalani perawatan. Kala itu apa yang dikatakan orang enak terasa hambar bagiku. Nasi ayam rasa hambar, sayur tumis rasa campah, tahu tempe goreng pun ikut-ikutan tak berasa. Dan ketika ada teman yang mengetahui penyakitku, mereka menjaga jarak denganku. Takut tertular penyakit yang sama, begitu anggapan mereka. Telepon tak boleh kugunakan karena takut kuman dari tubuhku lengket di sana. Begitu pula dengan peralatan makan, aku punya peralatan makan sendiri. Sungguh menyedihkan!

Asap! Asap! Itu pengaruh asap! Dokter bilang, jangan dekat-dekat asap. Hindari asap, terutama asap rokok.

Aku berusaha menghindar dari asap rokok. Tapi, banyaknya orang yang merokok di sekelilingku, membuatku tak kuasa untuk menghindari mereka. Berjalan beberapa meter, ada asap rokok. Pergi ke suatu tempat, bertemu asap rokok. Di angkot, di bus, di mal, di restoran, di tempat ibadah, di sekolah, di mana-mana ada asap rokok. Bahkan, ketika berobat ke rumah sakit dan ke tempat praktek dokter pun aku harus menghirup asap rokok! Lalu, bagaimana aku harus menghindarinya?

Mungkin, suatu saat nanti aku akan membuat baju baja, baju seperti Ironman, yang membuat hidung terlindung oleh asap. Atau, akan kubuat entah baju apa pun yang bisa melindungiku dari asap rokok. Atau, aku akan membuat tabung perlindungan, sehingga oksigen yang kuhirup tak tercemar oleh asap.

Rokok! Silakan kalian hisap sebanyak-banyaknya! Silakan puaskan hati kalian! Tak usah pedulikan orang-orang seperti aku. Biarlah keluarga kalian dan orang-orang terdekat kalian bernasib sama seperti aku. Bukankah kalian akan berbahagia jika orang yang kalian sayangi bernasib sama seperti aku?

Rasakan….. Rasakan bagaimana penderitaanku. Asapmu membunuhku. Dan, perlahan-lahan akan membunuhmu juga, perlahan tetapi pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s