#FF2in1 – Bukan Dia Tapi Aku

Kulihat lagi dia di sana. Sudah berkali-kali aku melihatnya, tak pernah ada rasa bosan. Dia baik, asyik diajak mengobrol, pengetahuannya luas, dan dia juga tampan. Aku menyukainya. Tapi, sayangnya dia tidak suka padaku. Ada seseorang yang disukainya. Ya, begitulah yang dikatakannya.

“Din, aku suka sama Riana,” begitulah kata Arman kira-kira sebulan yang lalu.

Dan, sebagai sahabat, aku tak mungkin mencegahnya menyukai wanita lain. Aku hanya bisa mengatakan, “Itu bagus, Man. Kejarlah ia sampai dapat.”

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hati seorang wanita?” tanyanya.

“Tergantung wanita itu, Man. Kalau dia suka padamu, kau tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hatinya. Yang perlu diingat, kau perlu menjadi sahabatnya terlebih dahulu, agar ia merasa nyaman berada di dekatmu,” jelasku.

“Baiklah, Din. Terima kasih atas saranmu,” kata Arman waktu itu.

* * *

Tiga minggu berlalu. Kami semakin sering curhat tentang Riana. Perih kurasakan dalam hatiku setiap kali Arman menyebut nama Riana. Namun, apa boleh buat, demi sahabat aku akan selalu ada untuknya walau aku harus menahan rasa sakit itu. Aku ingin dia bahagia.

Suatu hari, Arman mengajakku jalan-jalan ke mal. Aku menyetujui ajakannya. Di mall, kami mampir ke sebuah restoran.  “Din, ayo makan dulu, aku traktir kamu. Kita sambil ngobrol-ngobrol, ya,” ajak Arman.

“Ngobrol tentang Riana?” tebakku.

“Iya, ada perkembangan bagus yang ingin aku ceritakan padamu,” kata Arman dengan antusias.

“Maaf, Man, sebenarnya aku nggak berniat membicarakan tentang Riana,” kataku jujur. Rasanya aku tak dapat lagi menahan sakit ini lebih lama lagi.

“Lho, kenapa, Din? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Arman.

“Ehm, nggak ada, Man. Hanya saja, aku lagi nggak mau membicarakan tentang dia,” jawabku.

“Aku tahu ada sesuatu yang salah denganmu, Din. Sejak awal aku memberitahumu bahwa aku suka sama Riana, kamu seperti mengambil jarak denganku. Ya, walaupun kamu selalu mendengar curhatku, aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan,” kata Arman.

“Ah, itu hanya perasaanmu saja, Man,” kataku mencoba mengelak dari pernyataan Arman.

“Oke, sebaiknya nggak usah basa-basi lagi. Aku akan akhiri semua sandiwara ini,” lanjut Arman.

“Sandiwara apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Begini…,” katanya. “Riana itu hanya alasanku saja…. Sebenarnya aku ingin mencari cara supaya bisa lebih dekat denganmu, Din. Aku nggak tahu bagaimana bilang aku suka sama kamu. Kamu terlihat begitu cuek dan acuh tak acuh sejak pertama kali kita berteman. Padahal dari saat pertama itulah aku sudah suka sama kamu. Dan, sekarang kurasa waktunya tepat untuk mengatakan semuanya…,” jelas Arman.

Aku tak mampu berkata apa-apa. Rasanya ingin menangis saja. Ya, menangis terharu. Seperti mengetahui isi hatiku, Arman mengambil tanganku dan menggenggamnya. “I love you, Dini,” bisiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s