#FF2in1: Katamu Kau Tak Akan Kembali

“Sudah, kita akhiri saja hubungan ini. Kita putus!”

Kata-kata itu bagai petir menyambar di siang bolong. Tak ada angin, tak ada hujan. Ia menghujam jantungku. Hatiku mendadak retak seribu. Walau sudah berkali-kali kata itu diucapkan itu, tetap saja aku terperanjat saat mendengarnya.

“Apa salahku kali ini?” tanyaku. Seperti sebelumnya, selalu aku yang salah. Jadi, aku bertanya seperti itu.

“Aku nggak cinta lagi sama kamu. Maaf!”

“Apa? Yang benar saja!” ujarku. “Apa ada orang yang kau sukai? Akhir-akhir ini kau sangat berbeda. Atau…. Apakah ada sesuatu?” cecarku.

Alasannya untuk putus kali ini sungguh tak masuk akal. Biasanya alasan putus yang kudengar adalah karena cemburu yang berlebihan terhadap teman-teman maupun pekerjaan. Tapi, ini…

“Pokoknya aku nggak cinta lagi sama kamu! Nggak usah ditanyakan lagi. Kita putus!” kata laki-laki yang berdiri di hadapanku. Setelah saling menatap beberapa detik, ia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkanku.

“Ini yang terakhir kali??” teriakku padanya.

“Terakhir kalinya kita putus!! Nggak bakal ada kata sambung-sambung lagi!! Aku tak akan kembali padamu!” ia balas berteriak.

Aku menghela napas panjang. ‘Ini sudah biasa. Putus-sambung putus-sambung. Aku sudah kebal. Paling-paling nanti malam dia akan meneleponku untuk minta balik,’ yakinku pada diriku.

* * *

Malam tiba, aku memainkan ponselku. Tak ada pesan yang kuterima dari laki-laki itu. Tak ada pula bunyi dering panggilan masuk darinya. Aku agak kecewa. ‘Ini benar-benar yang terakhir,’ kataku dalam hati sambil mengingat-ingat peristiwa tadi siang. ‘Baiklah, ini memang yang terakhir!’ aku menggumam.

* * *

Aku sedang duduk di bangku taman sore itu. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku.

“Chiara, aku minta maaf. Kemarin aku salah. Ayo kita balikan lagi. Aku masih sayang sama kamu,” suara khas yang kukenal memohon padaku.

Entah mengapa, kurasakan perih di hatiku. Berkali-kali aku dibuat seperti ini. Kupikir aku sudah kebal. Nyatanya, tetap saja aku tak tahan dengan perlakuan ini.

Aku diam. Laki-laki di hadapanku ini juga diam. Menunggu. Aku mengangkat pergelangan tangan kiriku. Kulirik jam tanganku.

Tak lama kemudian, seseorang memanggilku. “Chiara, rupanya kau ada di sini. Ayo kita pulang,” ajak orang itu. Ia menggamit lenganku, menarikku dari hadapan laki-laki yang tadi menohon-mohon padaku untuk minta balik.

“Tunggu! Siapa dia, Chiara??”

Belum sempat aku berkata-kata, orang yang sekarang menggandeng lenganku berkata, “Aku kekasih Chiara. Jangan pernah kau ganggu dia lagi. Bukankah katamu kau tak akan kembali lagi?”

Ariyo menggandeng lenganku, mengajakku pergi menjauhi Rendy.
.
.
.
.
FF2in1 Project Session 1 (28 August 2013): Selepas Kau Pergi-La Luna

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s