Sanggupkah Kau Donorkan Hidupmu?

Donor darah? Itu sudah umum di masyarakat. Donor organ? Itu luar biasa pengorbanannya!

Oke, artikel ini hanya opini saya.

Beberapa waktu yang lalu, seorang tante minta tolong pada ibu saya untuk dicarikan akar tanaman cabai. Yang diperlukan adalah akar tiga buah pohon cabai. Katanya, akar itu untuk obat. Lalu, ibu saya mencari tahu untuk obat apa akar tanaman itu. Dengar-dengar dari beberapa orang, akar tanaman cabai bisa untuk obat polip dan kanker. Entah benar atau tidak, yang pasti, karena itu untuk pengobatan maka dicarilah benda tersebut ke sana-ke mari.

Mencari pohon cabai yang sudah agak besar, tuh, nggak mudah. Ada satu orang, dia punya tanaman cabai. Tapi, dia tidak mau memberikan tanaman cabainya karena sayang. Padahal sudah dikatakan nanti mau dibayar dan akar itu diperlukan untuk obat.

Sama seperti orang pertama tadi, beberapa orang lainnya tidak mau memberikan tanamannya karena merasa sayang walaupun sudah dikatakan tanaman itu untuk mengobati pasien yang sedang sakit dan akan membayar berapapun harga tanamannya.

Setelah keliling pontang-panting, akhirnya ada juga yang mau memberikan tanaman cabainya, gratis pula. Kata orang tersebut: “Tanaman cabai kami ada banyak. Perlu berapa, ambil saja. Tidak usah bayar, karena saya tahu itu untuk obat.” Mendengar itu, terharu sekali rasanya. Sungguh sangat jarang ada orang yang seperti itu.

Nah, sekarang, apa hubungannya dengan donor kehidupan?

Coba lihat kasus si akar cabai di atas. Mendonorkan tanaman cabai saja banyak orang yang tidak mau, apalagi mendonorkan hal-hal lain, seperti darah, bahkan organ tubuh! Padahal, tanaman cabai bisa tanam kembali dari biji cabai. Memang, sih, butuh waktu beberapa minggu sampai si tanaman cabai tumbuh besar dan berbuah. Tapi, kan, yang namanya tanaman bisa ditanam dari bibit, tidak seperti organ tubuh.

Oke, kembali ke topik utama. Sekarang bicarakan tentang donor organ tubuh, katakanlah ginjal. Mau nggak, sih, Anda mendonorkan ginjal Anda ketika Anda masih hidup sehat sentosa aman sejahtera? Jika saya bertanya pada diri sendiri, maukah saya? Saya nggak akan pikir sampai seribu kali, langsung saya bilang tidak mau. Kenapa? Karena saya takut hidup dengan satu ginjal. Kalau donor tanaman cabai, saya mau. Mungkin hati saya tidak semulia nama saya.

Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan ketika akan mendonorkan organ tubuh. Pertama, sesudah organ tubuh itu didonorkan, apakah kita bisa bertahan hidup dengan kondisi sehat sejahtera? Lalu, adakah efek dari mendonorkan organ itu untuk diri kita? Misalnya, apakah stamina tubuh kita akan berkurang? Apakah aktivitas kita akan terhambat? Memang, sih, mendonorkan organ tubuh itu tidak mudah, harus melalui tes ini-itu dulu. Dokter harus mengecek kondisi kesehatan pendonor. Jika bagus, baru bisa mendonor.

Orang-orang yang mau mendonorkan organ tubuhnya adalah orang-orang yang luar biasa! Bagaimana tidak, ia pasti tidak banyak pertimbangan, niatnya hanya untuk menolong orang lain, dia tidak memikirkan nanti dirinya sendiri ke depannya bagaimana. Mendonorkan organ tubuh, berarti mendonorkan kehidupan. Itu benar-benar hebat!

Lalu, adakah orang yang tidak mendonorkan organ tubuh tapi mendonorkan kehidupannya? Ada! Mereka adalah ibu-ibu kita, orangtua kita. Tentu saja, dalam hal ini adalah orangtua yang baik dan bijaksana, bukan orangtua yang menelantarkan anaknya atau suka menyiksa keluarga, ya. Ibu-ibu yang baik, yang merawat anaknya dengan kasih, adalah orang yang mendonorkan kehidupannya. Kenapa? Karena apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan anaknya, tanpa memikirkan dirinya sendiri. Ibu-ibu ini rela berkorban demi anaknya, mereka tidur sampai larut malam untuk membereskan segala sesuatu yang diperlukan untuk anak dan keluarganya, lalu bangun pagi-pagi sekali demi menyiapkan hal-hal untuk anaknya. Belum lagi pengorbanan materi, semua dilakukan untuk anak-anaknya.

Mungkin tidak semua dari kita sanggup untuk mendonorkan darah atau organ tubuh kita. Tapi, setidaknya kita bisa mendonorkan kehidupan kita dengan cara menjadi orang yang berperilaku baik-baik untuk diri sendiri dan untuk sesama. Jika belum bisa baik untuk sesama, setidaknya tidak menyakiti orang atau makhluk lain (itu kata Dalai Lama). Terus belajar dan tetap semangat untuk menjadi orang yang baik. Saya juga masih belajar jadi orang baik, lho! Ayo semangat!! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s