Cuma Begini Pun Akan Berlalu

Di sekolah, guru memberi tugas presentasi. Saat mencari bahan rasanya sukar sekali. Ada perasaan malas, kesal, marah, karena tugas itu terasa sulit. Tugas semakin terasa sulit karena tidak senang dengan presentasi. Beberapa hari lewat, akhirnya tiba saatnya untuk presentasi. Ada perasaan gugup saat maju ke depan. Setelah waktu habis, presentasi pun selesai. Ternyata… Ini bisa dilewati juga. Rasanya, kok, cuma begini? Kalau tahu dari awal cuma begini, nggak bakalan malasan-malasan saat mengerjakannya. Toh, inipun akan lewat.

Di kantor, bos menyuruh untuk menyiapkan proposal. Kata per kata disusun. Lampiran-lampiran dilengkapi. Ada perasaan kesal mengapa harus membuat proposal seperti ini. Banyaknya pekerjaan membuat pikiran mumet dan cemas karena waktunya sedikit. Pekerjaan ini pun semakin berat karena terlalu memikirkan bagaimana hasil akhir proposal nanti. Setelah beberapa hari, akhirnya proposal pun selesai. Lalu proposal diserahkan. Perasaan lega pun muncul. Rasanya, kok, cuma begini. Kalau cuma begini, kenapa kemarin-kemarin terlalu mencemaskan hasil akhirnya? Toh, ini semua akan berlalu.

Televisi menampilkan iklan barang baru. Karena iklan tersebut sangat menarik, maka dicarilah barang tersebut. Keliling-keliling, ke mana pun juga dicari sampai dapat. Tak peduli panas, hujan, pusing karena keliling ke sana-ke mari, yang penting barangnya dapat. Setelah pontang-panting sana-sini, akhirnya didapatlah barang tersebut. Barang sudah di tangan. Tapi, setelah beberapa hari memilikinya, rasanya kok cuma begini saja. Jika tahu barangnya cuma begini, kok repot-repot keluyuran ke sana-sini untuk mencarinya? Toh, akhirnya ambisi tersebut akhirnya akan sirna.

Suatu ketika, perut terasa lapar. Karena belum saatnya makan, maka terpikirlah nanti ketika jam makan tiba, akan makan sesuatu yang enak, katakanlah makanan A. Selama menit-menit menunggu jam makan, pikiran mulai berpikir bagaimana caranya mendapatkan makanan itu. Ketika waktunya tiba, maka dicarilah toko tempat makanan A dijual. Setelah dibeli, lalu makanan tersebut dimakan. Awalnya muncul perasaan senang, suka, enak. Tapi, selang beberapa menit, beberapa sendok, rupanya rasanya cuma begini. Kalau tahu rasanya cuma begini, kenapa harus pusing-pusing memikirkannya? Toh, akhirnya makanan itu akan berlalu, masuk ke lambung dan nantinya akan keluar lagi.

Semua itu, ya, cuma begini. Cuma begini adalah pernyataan dari Ajahn Brahm, seorang guru spiritual yang tinggal di Australia. Perasaan senang, takut, cemas, di awal suatu kejadian, pada akhirnya ya cuma begini, lenyap tak berbekas. Dan, seperti kata Ajahn Chah, guru dari Ajahn Brahm, ini pun akan berlalu. Jadi, kenapa harus terbawa arus dengan perasaan cemas, sedih, kalut, gembira, senang, ambisi, dan lain sebagainya? Toh, semuanya cuma begini. Dan, ini pun pasti berlalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s