Standar Kehidupan: Kutahu yang Kumau

Ada pernyataan: “I’m not perfect. Nobody’s perfect.”

Artinya, “saya tak sempurna. Tak ada manusia yang sempurna.” Menurut saya, itu memang benar. Tapi, ketaksempurnaan itu bukan alasan untuk main ‘asal sabet’ atau ‘asal caplok’, kan. Atau, kalimat tersebut dijadikan alasan ketika berbuat suatu kesalahan, itu tidak benar. Saya tak sempurna, orang lain juga tak ada yang sempurna, tapi saya punya standar tertentu terhadap sesuatu. Dan, saya yakin setiap orang juga pasti punya standar masing-masing.

Hidup itu harus punya standar atau kriteria. Standar atau kriteria ini bisa diibaratkan seperti lomba. Dalam setiap lomba, pasti ada kriteria penilaian. Misalnya, lomba cepat tepat. Dalam lomba cepat-tepat, yang dinilai adalah kecepatan dalam menjawab soal, keakuratan jawaban, dan jumlah nilai tertinggi. Nah, begitu juga dalam hidup. Apa kriteria sukses menurut Anda? Apakah harus punya mobil? Apakah harus naik pangkat setiap setahun sekali? Apakah harus dapat nilai 8 setiap kali ujian? Atau yang penting Anda bisa makan sehari tiga kali itu sudah cukup? Ya, itu tergantung pribadi masing-masing.

Kenapa kriteria dalam kehidupan itu penting?
Menurut saya, kita harus punya standar yang jelas supaya tidak terombang-ambing dalam hidup, supaya kita tidak ‘asal ikut-ikutan’, dan supaya tujuan hidup kita jelas. Apa yang kita mau, itu harus jelas. Saya contohkan di sini dalam hal mencari pekerjaan. Coba bayangkan bagaimana jika Anda tidak jelas dalam menentukan pekerjaan. Anda bilang, “Yang penting saya bisa kerja itu sudah cukup.” Iya Anda bekerja, tapi jika setiap hari harus lembur sampai tengah malam dan gaji tidak sesuai, Anda mau? Contoh lainnya, dalam hal jodoh. Ada yang bilang, “Nggak apa-apalah yang penting ada yang mau sama saya.” Lalu, bagaimana jika ternyata setelah menikah Anda dipukuli terus setiap hari. Anda mau?

Bagaimana menentukan standar dalam hidup?
Itu tergantung dari pribadi masing-masing. Untuk menentukan ini, menurut saya susah-susah gampang. Kita menentukan standar, ya, jangan yang muluk-muluk, tapi juga jangan asal-asalan. Misalnya, jika kita hanya pegawai biasa, lalu menetapkan kriteria sukses adalah harus punya rumah 10 buah, ya itu namanya muluk-muluk. Tetapkan target yang jelas sesuai kemampuan. Contohnya, seorang pelajar yang biasa-biasa saja kemampuannya bisa menetapkan kriteria berhasil dalam sekolah adalah mendapat nilai minimal 7. Kalau dia menetapkan kriteria nilai 10, bisa-bisa nanti dia jadi gila jika usahanya tak tercapai. Hal ini sama halnya dengan slogan sebuah iklan: ‘Kutahu yang kumau!’

Dalam menetapkan suatu standar, kita bisa membuat cek-list. Ini sama halnya seperti kriteria lomba yang saya sebutkan sebelumnya. Apa saja kriteria yang kita tetapkan, jika sudah memenuhi, beri tanda centang pada cek-list. Jika kriteria tidak sesuai harapan, ya coret saja. Mudah, kan? Contohnya, jika ingin membeli buku cerita, kita pasti punya standar buku seperti apa yang menarik bagi kita. Misalnya, buku tersebut harus bergenre misteri, karangan si itu, tebal bukunya sekian, penerbitnya si ini, sinopsisnya menarik, dan lain sebagainya. Jika setelah memilih-milih buku ternyata semua tak memenuhi kriteria kita, ya nggak usah beli buku.

Jika suatu hal tidak sesuai dengan kriteria yang kita harapkan, maka jangan kecewa dan jangan berkecil hati, apalagi sampai putus asa. Mungkin saja standar kita itu terlalu tinggi. Kita boleh saja menetapkan standar baru yang sesuai untuk kita.

Nah, hidup memang harus punya standar. Setiap orang punya standar dalam kehidupannya. Sekarang, tugas kita adalah saling hormat-menghormati dan saling menghargai standar kehidupan masing-masing pribadi. Jangan memaksakan kehendak kita pada orang yang standar hidupnya tidak sesuai dengan yang kita pikirkan. Juga, jangan terlalu cepat mengambil keputusan untuk mengikuti saran atau kritikan orang mengenai standar kehidupan kita. Siapa yang tahu apa yang terbaik untuk kehidupan kita? Hanya diri sendirilah yang tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Orang boleh bicara, orang boleh mengkritik, orang boleh memberi saran, tapi yang menentukan adalah pribadi itu sendiri.

Akhir kata, saya tekankan bahwa teori itu mudah dan praktek itu susah. Walau demikian, semoga kita semua bisa belajar dari teori dan mempraktekkannya dalam kehidupan.

Semoga bermanfaat. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s