Menunggu Itu Harus Sabar

Kadangkala, menunggu itu bikin capek, ya. Walaupun sebenarnya rasa capek itu datangnya dari pikiran sendiri – karena mikirnya capek maka otomatis badanpun ikut capek. Dan ingat, capek itu tidak sama dengan bosan.

Contohnya, lagi di mobil lalu terjebak macet yang panjang. Pasti mikirnya, ‘Ini mobil kok nggak jalan-jalan dari tadi. Ayo cepatlah, sudah jam berapa ini! Lama banget, sih! Capek, deh!’ Situasi yang seperti ini biasanya bikin emosi.

Contoh lainnya, saat menunggu sesuatu yang nggak jelas, seperti minta jemput dengan ortu. Lalu ortu bilang: “Ya tunggulah.” Tapi ditunggu-tunggu nggak datang-datang, nggak tau sampai jam berapa. Yang nggak jelas inilah yang paling membuat capek.

Saat menunggu, supaya tidak bosan bisa diselingi sambil melakukan sesuatu, seperti mendengarkan musik, baca buku, makan, atau melakukan kegiatan lainnya. Apa yang membuat menunggu jadi capek adalah pikiran. Karena saat menunggu sambil mengerjakan sesuatu itu pikiran kacau, pikiran terus-menerus mengatakan capek, memikirkan yang nggak-nggak, atau sambil menggerutu, atau komplain terus-menerus.

Kadangkala menjaga pikiran itu sungguh-sungguh sulit. Menjaga pikiran agar tak memikirkan si capek itu butuh perjuangan, butuh kesabaran, dan harus punya tekad kuat. Nah, di sini, yang paling penting adalah kesabaran. Saat menunggu itulah dibutuhkan kesabaran. Sabar menjaga pikiran, sabar menjaga hati, dan sabar dalam melakukan kegiatan pengisi waktu menunggu.

So, menunggu itu harus sabar. Kalau merasa tidak sabar, ya, nggak usah menunggu. Mudah saja, kan? πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s