Sebuah Pembelajaran dari Retret

Retret. Ketika mendengar kata itu, yang muncul pertama kali di kepala saya adalah suatu bentuk penyiksaan diri. Karena itulah yang saya asumsikan berdasarkan pendengaran saya dari cerita teman-teman semasa sekolah, dan dari penglihatan saya yang sedikit-sedikit dari kegiatan retret yang pernah saya lihat.

Saya pernah ikut semacam retret waktu saya masih kuliah. Tapi, waktu itu saya tidak full mengikutinya karena saya sakit sebelum kegiatan tersebut berakhir. Saya juga pernah melihat kegiatan retret, tapi hanya melihat dan tidak benar-benar merasakan bagaimana sebenarnya kegiatan tersebut. Yang saya rasakan sebentar adalah, waktu itu saya harus bangun pagi-pagi sekali dan harus mengantri mandi. Kami harus memakai pakaian yang ditentukan panitia, cara makan diatur, harus duduk diam, dan harus mengikuti kegiatan tanpa istirahat, kecuali waktunya makan dan tidur. Lalu, karena saya tidak terbiasa duduk bersila, kaki saya terasa sakit sekali. Inilah yang menyebabkan saya berasumsi bahwa kegiatan retret itu adalah kegiatan menyiksa diri.

Tanggal 23 Desember kemarin, saya mengikuti retret. Sebelumnya saya tidak tahu kalau ada kegiatan retret. Yang saya tahu, saya diajak ke daerah Curup untuk membantu kegiatan rakerda (rapat kerja daerah) ibu-ibu Wanita Buddhis Sumatera Selatan, dari tanggal 21 sampai 24. Rupanya kegiatan rapat hanya satu hari dan setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan retret. Wah! Saya sempat berkecil hati ketika mendengar harus ikut retret. ‘Ini adalah penyiksaan diri!’ pikir saya waktu itu. Tapi, masa saya harus melarikan diri tidak ikut retret, padahal semua ibu-ibu mengikutinya. Ya, semua peserta adalah ibu-ibu yang sudah menikah dan punya anak, kecuali saya, satu orang cece yang anggaplah panitianya, dan satu orang teman laki-laki yang bertugas di bagian dokumentasi (tapi dia rela ikut retret bersama kami para ibu-ibu walaupun dia laki-laki sendiri!).

Akhirnya, saya ikut juga kegiatan retret itu. Saya bangun pagi-pagi dan mandi air yang dinginnya seperti air kulkas. Lalu kami meditasi dan puja bhakti. Setelah itu dilanjutkan dengan senam pagi. Udara di Curup benar-benar dingin. Sampai-sampai mbak penjaga tempat retret itu berkata, “Di sini ACnya nggak pakai remote. Nggak bisa distel suhunya dan nggak bisa dimatiin atau dihidupkan sesuai keinginan kita,” katanya bercanda.

Setelah senam pagi, kegiatan berikutnya adalah meditasi jalan. Saya pikir, meditasi jalan dilakukan di ruangan tempat kami duduk diam bermeditasi. Rupanya, kami harus melepas alas kaki dan berjalan di atas aspal pecah, tanah basah dan batu-batu!, menuju ke sebuah danau. Jarak yang ditempuh tidak begitu jauh, hanya sekitar 200 meter. Tapi, perjalanannya sungguh sulit karena saya tidak terbiasa tidak memakai alas kaki jika berjalan di atas batu-batu tajam.

Awalnya, ini sungguh menyiksa. Kaki saya sakit karena menginjak batu-batu tajam. Betis terasa pegal karena jalan yang dilalui bukanlah jalan datar, melainkan jalan yang naik turun. Tapi, setelah dipikir-pikir, ini adalah latihan untuk kekuatan kaki dan hasil akhirnya sungguh menyenangkan, saya melihat danau yang indah. Guru berkata, dengan berjalan menginjak bumi, kita diajarkan bersyukur karena masih dapat merasakan bumi dengan telapak kaki kita. Kita diajarkan bersyukur masih dapat melihat jalan yang dilalui, melihat batu-batu, tanah, aspal, dan pemandangan indah di pagi hari. Kita diajarkan bersyukur bisa merasakan segarnya udara di pagi hari. Bayangkan jika kita tidak punya kaki, atau buta, atau sakit-sakitan, tentunya kita tidak dapat merasakan menapak di bumi, melihat danau dan merasakan udara segar di pagi hari.

Ternyata pembelajaran di retret ini bukan hanya meditasi duduk diam berjam-jam. Selain meditasi jalan, kami belajar membaca dan menyimak. Masing-masing peserta mendapat giliran membacakan satu paragraf dari kertas yang sudah disediakan. Saat satu peserta membaca, yang lain mendengarkan. Di sini, kami melatih kesabaran dan melatih konsentrasi terhadap bacaan yang dibaca.

Ada juga belajar relaksasi total. Di sini, kami meditasi berbaring. Ada musik dibunyikan. Kami meditasi sambil berbaring, lalu jika tertidur tidak apa-apa. Guru berpesan agar kami membiasakan diri melafalkan doa sebelum tidur supaya memudahkan tidur dengan tenang. Ini juga merupakan metode untuk melatih konsentrasi.

Kami juga belajar meditasi memisahkan kacang hijau dari beras. Disediakan dua buah piring. Piring pertama adalah piring berisi campuran kacang hijau dan beras. Piring kedua adalah piring kosong. Kami harus memisahkan kacang hijau dari beras dan meletakkannya di piring kosong. Makna dari meditasi adalah: dalam hidup kita pasti ada masalah. Masalah itu diibaratkan dengan kacang hijau. Kita harus mencari penyelesaian dari setiap masalah dalam hidup kita agar bisa tenang. Masalah yang ada harus diselesaikan satu per satu. Bagaimana kita memindahkan kacang hijau dari beras, menunjukkan bagaimana kita memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang diselesaikan satu per satu, ada yang sekaligus, ada pula yang tidak konsisten-memakai berbagai cara untuk memecahkan masalah.

Di hari terakhir, kami meditasi jalan lagi. Dan kali ini, jalan yang dilalui bukanlah jalan berbatu tajam, melainkan jalan tanah yang licin karena pada malam harinya turun hujan. Kami mendaki bukit dan melewati lembah, mendaki bukit yang curam, lalu turun ke lembah yang benar-benar membuat sport jantung, berjalan di atas tanah yang berbambu karena tanahnya benar-benar licin, melewati kebun daun bawang, kebun terong, lalu melihat jurang. Saya sampai teringat lagu film Ninja Hatori: “Mendaki gunung, lewati lembah, bersama teman bertualang!” Dan hasil akhirnya, sungguh luar biasa!! Pemandangan yang kami lihat dari atas puncak bukit benar-benar indah!!

Dan pelajaran yang saya dapat di meditasi berjalan yang kedua ini adalah, belajar memakai rem kaki. Benar-benar memakai kaki sendiri untuk menjadi rem saat berjalan di tanah yang licin. Caranya yaitu dengan menekukkan jari-jari kaki. Pelajaran yang lain adalah mengutip slogan sebuah iklan: ‘Berani kotor itu baik!’ Karena saat berjalan, kami tidak memakai alas kaki. Saya bisa merasakan basahnya tanah, tanah lembut, tanah keras, rumput-rumput yang basah oleh embun, dan kerasnya bambu-bambu yang disusun berjejer. Coba jika guru menyuruh kami memakai alas kaki, tentu perjalanan ini akan menjadi sulit karena saat memakai alas kaki, kaki tak dapat mengerem.

Akhir kata, ternyata retret itu bukanlah menyiksa diri, tapi melatih diri, dan banyak sekali pembelajaran yang bisa dipelajari selama diri ini dapat melatih pikiran untuk berpikir positif.

Terima kasih saya bisa diajak mengikuti kegiatan ini, terima kasih ibu-ibu, terima kasih teman, dan terima kasih Guru.
Semoga semuanya berbahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s