Berawal dari Tukang Berakhir dengan Tukang (part 1)

Tukang ramal, tukang fengshui, tukang lihat masa depan orang… Saya benci sekali dengan tukang-tukang ini. Ya, gimana nggak, kalau sudah pergi ke salah satunya, pasti akhirnya harus mencari tukang-tukang yang lain.

Berikut ini contoh kasus seorang Customer (C) pergi ke Tukang Ramal:

C: “Pak, tolong lihat nasib saya. Berapa biayanya?”
TR: “Ah, nggak usah bayar. Saya meramal ini cuma buat amal.”
C: “Oh, begitu. Okelah, terima kasih. Kalau begitu tolong lihatkan nasib saya.”
TR: “Hidung kamu kecil, itu artinya kamu nggak bisa menyimpan uang, uangmu pasti selalu habis entah ke mana.”
C: “Terus, apa lagi yang Anda lihat?”
TR: “Pipimu kurang berdaging, itu artinya kamu kurang hoki.”

bla – bla – bla

C: “Wah, jadi saya harus bagaimana dong?”
TR: “Saya akan bantu kamu buang ketidakberuntungan kamu. Bisa dibilang, ini untuk buang sial.”
C: “Wah, bagaimana caranya?”
TR: “Kamu kasih saya uang, terserah berapa jumlahnya. Nanti saya akan bacakan mantra.”
C: “Nah, terus uangnya buat apa? Tadi katanya mau ramal ini gratis.”
TR: “Uangnya itu untuk beli barang-barang buat buang sialnya kamu.”
C: “Oh, ya sudah, kalau begitu saya kasih Rp.50.000, cukup?”
TR: “Nggak cukup, dik. Saya perlu beli buah, dupa, air, dan minyak.”
C: “Oke, deh. Kalau Rp.100.000 cukup nggak?”
TR: “Iya, cukup.”

TR menerima uang seratus ribu dari C. Lalu mengatakan pada C bahwa ia akan membacakan mantra untuk buang sial. Si C disuruh pulang dan nanti akan merasakan ‘khasiat’ dari mantranya TR.

Nah, saudara-saudara sekalian, emangnya si C tahu kalau uangnya benar-benar dibelikan perlengkapan untuk buang sial?? Kalau sial bisa dibuang, enak dong manusia-manusia di bumi ini, nggak ada lagi yang namanya orang miskin, orang sakit, bencana alam, dan kroco-kroconya si derita. Semua orang tinggal pergi ke tukang ramal maka dunia bakal aman, damai, tentram, dan bahagia.

Tapi, kenyataannya? Dunia tak selalu aman dan damai, kan.

Lalu, bagaimana nasib si C?
Ya, kalau dia memang harus bernasib sial, ya tetap sial, walaupun ‘katanya’ si TR sialnya sudah dibuang.

Jadi, berawal dari Tukang Ramal, berakhir dengan Tukang Tipu. Artinya, tukang ramal itu tukang tipu.

Eits! Tukang ramalnya yang di dalam cerita ini ya, bukan di dunia Anda yang nyata. Tolong digaris-bawahi. Karena ini adalah fiksi belaka, jika cerita ini ada kesamaan dengan dunia nyata, saya nggak bertanggung-jawab. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s