Saat Dinding Bisa Mendengar

Renungan: Stop Gosip karena Dinding Bisa Mendengar.

Kalau ada yang ngomong, “Eh, si itu tuh… bla.. bla.. bla..” atau “Tau nggak kalau si anu… bla.. bla.. bla…”
Itu namanya gosip.
Gosip –> makin di GOsok makin SIP.

Kenapa, sih suka ngomogin orang? Apalagi yang diomongin tuh keburukan orang…
Apa untungnya? Bermanfaatkah?

Sekali ngomongin keburukan orang lain, ingatlah bahwa orang yang mendengarnya bisa menyampaikan kembali omongan itu pada orang lain lagi. Bahkan, orang yang mendengar secara tidak langsung alias nguping (mencuri dengar) pun bisa ikut-ikutan menyampaikan apa yang didengarnya. Inilah yang dikatakan ‘Dinding bisa mendengar.’
Dan perlu diingat pula:
* kalau menitipkan uang –> uang bisa berkurang.
* kalau menitipkan omongan –> omongan bisa bertambah.

Jadi, hati-hati kalau bicara. Bicara satu kalimat bisa disampaikan kembali menjadi sepuluh kalimat (baca: nambah-nambahin bumbu biar sedap). Lalu, kalau omongan itu menyebar sampai ke seluruh penjuru dunia dan didengar oleh orang yang dijelek-jelekkan, apa jadinya? Rusuh!! Bisa perang dunia ke sekian, lho! Kalau tidak suka dengan tingkah laku seseorang, lebih baik ngomong langsung, daripada ngomong di belakang. Lagian si teman nggak bakal tahu kalau kita sebal dengannya. Kalau sudah dikasih tahu tapi dia masih tetap nyebelin, ya sudah. Ntar biar dia merasa sendiri, kan.

Lalu, bagaimana kalau ada teman yang ngajakin bergosip ria membicarakan keburukan orang lain?
Pesan bos saya: “Begitu ada yang ngomong ‘Eh, si itu …’, jangan bilang ya. Karena begitu kamu bilang ‘ya’ maka si tukang gosip akan melanjutkan aksinya.”
Lain lagi menurut Asuk (paman) rekan di tempat kerja. Katanya, “Bilang saja aku nggak tau dan nggak mau tau. Itu bukan urusanku.”
Wah, mantap banget saran Asuk!

Lalu, ada juga nasehat dari Manager HRD tempat saya bekerja. Beliau membacakan cerita tentang Socrates. Intinya, jika ada teman yang ingin membicarakan tentang orang lain, tanyakan 3 hal berikut:
1. Benarkah itu?
2. Kebaikankah yang dibicarakan?
3. Bermanfaatkah itu?
Jika semua jawabannya ya, maka lanjutkan. Jika tidak, untuk apa dibicarakan.

Dan yang terakhir, jika terpaksa menjadi pendengar yang baik, ingat Ehipassiko: datang, lihat dan buktikan kebenarannya. Jangan asal terima saja omongan orang, apalagi sampai ikut-ikutan menjelek-jelekkan orang yang dibicarakan.

Apa nggak kasihan dengan orang yang dibicarakan keburukannya?
Bagaimana kalau kita sendiri yang digosipin orang?
Jika kamu berani membicarakan keburukan orang, saat itu juga dirimu sendiri beresiko dibicarakan orang lain.

Kita semua pasti pernah membicarakan keburukan orang lain. Apalagi kalau lagi kesal dengan seseorang atau saat baru melihat tingkah teman yang nyebelin banget. Bawaanya pasti emosi, maunya maki-maki, dan kalau bisa langsung memberi tahu teman lain tentang hal tersebut. Padahal, yang kita sampaikan itu hanya karena emosi sesaat dan kebetulan orang yang dibicarakan itu juga sedang bad mood sehingga dia jadi tampak sangat menyebalkan. Who knows? Dan seperti kata bos saya, lagi, “Penilaian tentang kebaikan seseorang itu relatif. Bisa saja saat saya beri kamu uang, kamu bilang saya baik. Tapi, jika suatu ketika saat saya tidak memberi kamu pinjaman, kamu bilang saya jahat.”

Mari bersama-sama belajar untuk tidak membicarakan keburukan orang lain.
Mari belajar membicarakan hal-hal yang bermanfaat saja.
Semoga saya bisa.
Semoga kita semua bisa.
Sadhu.. Sadhu.. Sadhu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s