[Review Film] W

sumber gambar: asianwiki.com

Sinopsis:
W adalah serial webtoon ternama di Korea sejak 7 tahun yang lalu. Pengarangnya adalah Oh Sung Moo, seorang ayah yang mempunyai putri tunggal bernama Oh Yeon Joo. Oh Yeon Joo berprofesi sebagai dokter magang. Ketua tim dokter di tempatnya bekerja, Profesor Park, adalah penggemar berat webtoon karangan ayah Oh Yeon Joo.

Suatu hari Profesor Park meminta bocoran cerita pada Oh Yeon Joo. Ia menjanjikan akan mengajak Oh Yeon Joo ikut ke ruang operasi jika Oh Yeon Joo bisa memberikan bocoran tentang akhir kisah W. Oh Yeon Joo tentunya sangat senang karena tidak semua dokter magang diizinkan berpartisipasi di ruang operasi. Oh Yeon Joo yang kedua orangtuanya sudah bercerai akhirnya pulang ke rumah ayahnya untuk menanyakan akhir cerita W.

Sampai di rumah ayahnya, ternyata hanya ada pegawai ayahnya saja. Ayahnya menghilang tanpa jejak. Asisten ayahnya, Soo Bong, mengatakan tidak melihat ayahnya keluar dari rumah. Tetapi saat masuk ke ruang kerjanya, ayah Oh Yeon Joo sudah tidak ada. Oh Yeon Joo lama sekali berpikir di ruang kerja ayahnya. Saat ia sedang mencari petunjuk di meja kerja ayahnya, tiba-tiba ada tangan yang menariknya.

Oh Yeon Joo berpindah ke dunia webtoon. Ia bertemu dengan Kang Chul, tokoh utama webtoon W yang dibuat ayahnya. Kang Chul saat itu sedang sekarat. Oh Yeon Joo berusaha menyelamatkan Kang Chul. Petualangan pun dimulai.

Oh Yeon Joo sering sekali bolak-balik dunia nyata – dunia webtoon. Di dunia webtoon, ia dan Kang Chul berusaha menemukan siapa sebenarnya pembunuh keluarga Kang Chul. Namun Oh Yeon Joo tidak bisa memberitahukan identitas aslinya pada Kang Chul. Jika Kang Chul mengetahuinya, dunia webtoon akan kacau.

Tetapi, karena Oh Yeon Joo pernah menyelamatkan Kang Chul, polisi di dunia webtoon mencarinya untuk meminta keterangan. Oh Yeon Joo pun nantinya ditangkap polisi dan dimasukkan ke penjara. Saat di penjara itulah identitas aslinya terbongkar karena desakan Kang Chul. Tak lama kemudian dunia webtoon terhenti. Kang Chul pun kemudian bisa masuk ke dunia nyata. Di satu sisi, tanpa sepengetahuan siapa pun, pembunuh misterius juga ikut masuk ke dunia nyata.

Review:
1. Yang Oke dari Film W
Film ini dibintangi oleh Lee Jong Suk, salah satu idol di Korea. Pemain lainnya juga cakep dan cantik. Lumayan buat cuci mata. Akting mereka keren! Lalu film ini juga lucu. Dan karena film ini adalah film fantasi, bikin yang nonton jadi berandai-andai bagaimana seandainya dunia webtoon benar-benar ada. Trus, ayahnya Oh Yeon Joo memiliki tablet untuk menggambar yang keren banget. Apa yang digambarnya bisa menjadi benda asli (tentunya di dunia webtoon, ya). Itu yang bikin seru banget!

2. Yang Nggak Oke dari Film W
Film ini cenderung kayak sinetron. Ada aja masalah yang sepertinya dibuat-buat. Misalnya saat penjahatnya sudah berhasil dikalahkan, eh tiba-tiba penjahat itu jadi semakin kuat dan mengancam lagi. Begitu terus diulang-ulang. Tokoh utamanya dibikin menderita terus. Walaupun sudah diberi tahu bahwa memang nasib tokoh utamanya harus menderita terus. Tapi, jadinya di pertengahan serial, ceritanya sedikit membosankan. Satu hal lagi, menurut saya, nggak ada hal yang bikin terharu dari film ini. Nggak kayak serial Korea lainnya yang ada bagian bikin terharunya. Memang di film W ini ada bagian tokohnya nangis-nangis. Tapi biasa aja, tuh!

Kesimpulan:
Film ini cukup menghibur buat kalian yang suka genre fantasi – romance plus adegan tembak-tembakan juga. Apalagi buat para penggemar Lee Jong Suk. Filmnya lumayan serulah.

Rating:
Saya beri nilai 3,5 dari skala 5 untuk film ini.

Informasi Film:
Judul Film: W
Genre: Fantasy, Romance, Suspence
Jumlah episode: 16
Rilis: Juli – September 2016
Network: MBC
Pemain:
Lee Jong Suk sebagai Kang Chul
Han Hyo Joo sebagai Oh Yeon Joo
Kim Eui Sung sebagai Oh Sung Moo, ayah Oh Yeon Joo
Lee Si Un sebagai Park Soo Bong, asisten Oh Sung Moo
Heo Jung Do sebagai Profesor Park
Jeong Eu Gene sebagai Yoon So Hee, sekretaris Kang Chul
Lee Tae Hwan sebagai Seo Do Yoon, asisten Kang Chul
Park Won Sang sebagai Han Chul Ho, pemeran antagonis di webtoon W yang ingin menghancurkan Kang Chul

Advertisements

Mati Lampu

Hari Sabtu. Akhir pekan. Artinya waktu untuk beristirahat. Tapi di Sabtu yang satu itu aku sibuk banget. Alhasil, aku pulang kesorean, di saat matahari nyaris tenggelam.

Tiba di rumah, hal yang pertama kulakukan adalah menyalakan lampu kamar mandi. Soalnya kamar mandi di rumahku tak ada jendelanya. Jadi pasti selalu gelap kalau lampunya tidak dinyalakan.

Klik! Kutekan tombol saklar. Tapi… Lampunya tidak menyala. Aku pikir mungkin lampunya rusak. Jadi aku menuju kamar tidurku dan menyalakan lampunya.

“O..ow…. Lampunya nggak menyala juga!”

Aku lari ke dapur untuk memastikan lagi. Namun ternyata sama saja. Lampu di mana-mana tidak menyala.

“PLN sialan! Masa akhir pekan malah memadamkan listrik, sih? Nggak boleh lihat orang senang, ya??”

Huft! Padahal di perjalanan tadi aku sudah berencana mau masak ini-itu, lalu makan, mandi, kemudian nonton televisi. Tapi rencana tinggal rencana. Di rumah kontrakan yang aku tempati saat ini…. Listrik mati berarti air juga mati. Entah kenapa keduanya nyambung gitu. Sedihnya, aku nggak punya bak penampungan air yang besar. Adanya cuma bak kamar mandi berukuran seadanya. Plastik besar berwarna oranye untuk nampung air juga tak punya.. Hanya mengandalkan air yang mengalir dari kran.

Karena cuaca sore itu sangat panas, aku keluar dari rumah dan duduk-duduk di teras. Saat sedang duduk santai sambil ditemani nyamuk-nyamuk yang bernyanyi riang, mataku tertuju pada meteran listrik. Lampu meterannya nyala! Dan warna lampunya merah!

“Astaga, meteran! Kenapa kamu nggak bilang kalau pulsamu habis? Maafkan aku PLN. Tadi aku menghardikmu. Rupanya pulsa listrikku habis. Duh, malunya aku.”

Akupun pergi ke minimarket dekat rumah untuk membeli pulsa listrik. Setelah dapat nomornya, langsung kuisi pulsanya di meteran.

“Hore!! Listriknya nyala lagi!”

Airpun kembali mengalir. Masih ada waktu sebelum makan malam. Cepat-cepat kusiapkan bahan-bahan untuk memasak. Dalam hitungan menit, masakanku jadi. Lalu aku cepat-cepat mencuci semua peralatan masakku dan setelah itu langsung mandi. Pokoknya rencanaku nggak boleh batal! Setelah mandi aku mau makan lalu nonton televisi!

Namun…. takdir berkehendak lain. Setelah aku selesai makan. Listrik padam. Kali ini bukan karena pulsa habis. Ini beneran mati dari sononya! Mati lampu!

“Aaaaggrrhhh Pe-eL-eNNNNN!!!!! Kok, lo tega banget, sih??”

[Review Film] Queen of The Night

sumber gambar: asianwiki.com

Sinopsis:
Young Soo adalah seorang pegawai di bagian IT. Orangnya biasa-biasa saja. Boleh dibilang culun. Suatu ketika ia mampir ke sebuah cafe. Kasir di cafe itu cantik banget. Namanya Hee Joo. Banyak cowok-cowok ngefans sama si Hee Joo ini sehingga cafenya selalu ramai dikunjungi cowok-cowok yang pengen lihat wajahnya. Termasuk pula Young Soo. Ia naksir dengan Hee Joo.

Tentu saja Young Soo agak putus asa karena ia merasa dirinya biasa-biasa saja dan nggak keren hingga pada suatu malam, Young Soo melihat sebuah tanaman yang rusak di depan cafe tempat Hee Joo bekerja. Ia memperbaiki tanaman itu. Saat ia sedang memperbaiki tanaman kecil itu, Hee Joo melihatnya. Hee Joo terharu oleh kebaikan dan kesabaran Young Soo merawat tanaman itu. Ia merasa Hee Joo orang yang sangat baik hati dan jatuh cinta padanya. Akhirnya mereka pacaran dan menikah.

Kebahagiaan pernikahan Young Soo dan Hee Joo tidak bertahan lama gara-gara suatu hari Young Soo tidak sengaja menemukan buku harian usang milik Hee Joo. Buku harian menampilkan foto-foto Hee Joo saat ia masih muda. Gaya Hee Joo di foto-foto tersebut berbeda 180 derajat dari gaya Hee Joo saat ini dan nama yang tertulis di buku itu bukan nama Hee Joo. Young Soo yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kemudian menyelidiki latar belakang Hee Joo dibantu sahabatnya yang juga seorang programmer, Joong Bae.

Young Soo merasa Hee Joo telah membohonginya karena tidak pernah menceritakan masa lalunya padanya. Hee Joo sendiri juga merasa sedih karena Young Soo tidak mempercayainya. Saat mereka berpisah, ada seseorang yang mencoba memanfaatkan masa lalu Hee Joo.

Review:
Film ini cukup menghibur. Ceritanya tentang kepercayaan dan persahabatan. Dalam rumah tangga, komunikasi itu perlu banget. Jangan berpikir yang nggak-nggak dan jangan berasumsi sebelum bertanya tentang kebenarannya.

Selain jalan cerita yang seru, yang oke banget dalam film ini adalah aktingnya Kim Min Jung yang berperan sebagai Hee Joo. Hebat banget karena ia bisa berakting menjadi ibu rumah tangga sekaligus sebagai seorang dancer terkenal, juga seorang wanita perkasa. Keren banget!!

Rating:
Aku kasih 4 bintang dari skala 5.

Informasi Film:
Judul Film: Queen of the Night
Rilis: Oktober 2013
Durasi: 113 menit
Genre: Komedi Romantis, Pernikahan
Negara: Korea Selatan
Pemain:
Chun Jung Myung sebagai Young Soo
Kim Min Jung sebagai Hee Joo
Kim Ki Bang sebagai Joung Bae
Han Bo Reum sebagai Jang Mi

[Review Film] Live Up to Your Name

sumber gambar: asianwiki.com

Apa jadinya kalau kamu bisa berpindah tempat (teleportasi) ke masa depan atau kembali ke masa lalu? Inilah tema yang diangkat dalam film ini.

Film Live Up to Your Name menceritakan tentang seorang tabib akupunktur bernama Heo Im dari zaman Joseon yang mendadak bisa berpindah ke masa depan. Awalnya Heo Im yang bekerja di Haeminso, klinik untuk rakyat miskin, diundang ke istana untuk mengobati penyakit Raja. Tetapi saat menghadapi Raja, tangannya tiba-tiba gemetar. Ia tidak mampu mengobati Raja, padahal Heo Im sangat terkenal sebagai tabib yang hebat. Akhirnya ia dijebloskan ke penjara. Namun, Heo Im bisa meloloskan diri. Ia berlari keluar dari istana. Saat ia melarikan diri, ada yang memanahnya. Ia pun jatuh ke sungai dan tak sadarkan diri.

Ketika Heo Im siuman, ia mendapati dirinya berada di masa depan, yaitu di Korea tahun 2017. Ia kebingungan karena dunia yang didatanginya sangat berbeda. Orang-orang yang melihatnya pun menyangka ia gila karena pakaian yang dipakainya adalah pakaian tradisional.

Setelah berjalan ke sana-ke mari akhirnya Heo Im bertemu dengan seorang dokter bedah jantung yang cantik bernama Choi Yun Kyung. Saat itu, ada orang yang mendadak pingsan karena serangan jantung. Heo Im hendak membantu dengan akupunktur, tetapi dokter Choi mencegahnya. Dokter Choi mengobati orang itu dengan pengobatan modern.

Heo Im yang tidak punya tujuan dan tidak dipercayai semua orang bahwa ia berasal dari zaman Joseon akhirnya menemukan sebuah klinik tradisional. Ia meminta izin pada pemiliknya untuk tinggal di sana. Ternyata klinik tersebut adalah klinik milik kakeknya dokter Choi. Kakeknya juga ahli akupunktur dan akhirnya percaya bahwa Heo Im berasal dari masa lalu. Rupanya dulu pernah ada orang dari Zaman Joseon yang juga mengunjunginya.

Setelah mengetahui bahwa hidup di zaman modern sangat menyenangkan, Heo Im berusaha menjadi dokter dan mencari uang. Seorang pemilik rumah sakit tradisional, Ma Song Tae, yang merupakan rival kakeknya dokter Choi memanfaatkan keinginan Heo Im. Heo Im diberikan sertifikat izin praktek dan izasah palsu. Heo Im yang mengubah namanya menjadi Heo Bong Tak lalu masuk ke perangkap Ma Song Tae yang serakah. Tapi tentu saja ada yang curiga dengan Heo Im. Ia adalah Yoo Jae Ha, cucu Ma Song Tae yang juga sahabat Choi Yun Kyung. Yoo Jae Ha adalah salah satu dokter di rumah sakit tradisional. Ia juga diam-diam menyukai dokter Choi Yun Kyung dan cemburu karena Heo Im bisa dekat dengan dokter Choi. Yoo Jae Ha menggunakan segala cara untuk mengungkapkan siapa sebenarnya Heo Im.

Plus dan Minus Film ini:

Selain berkisah tentang intrik yang terjadi di rumah sakit, di film ini ada juga unsur kekeluargaan dan komedinya, juga unsur dramanya. Dramanya itu ya apalagi kalau bukan kisah cinta antara Heo Min dan Choi Yun Kyung. Filmnya sangat mengharukan karena Heo Min akhirnya menemukan alasan kenapa ia bisa berpindah zaman. Lalu, ia harus memutuskan untuk tinggal di mana. Apakah ia akan tinggal di zaman modern yang nyaman tanpa perang atau kembali ke zaman Joseon yang sedang ada peperangan dan menjadi tabib istana sesuai cita-citanya.

Filmnya seru banget. Aktor dan aktrisnya juga cakep dan cantik. Tapi tentu saja ada minusnya. Sedikit sih. Menurutku, kalau lagi nonton film ini, jangan sambil makan. Apalagi pas adegan dokter Choi mengoperasi pasien. Soalnya dokter CHoi kan dokter bedah jantung. Nah, pas dia lagi mengoperasi pasien, ditunjukin bener jantung pasien yang sedang berdenyut-denyut. Agak menjijikkan sih menurutku.

Quotes yang oke banget dari film ini:

Tidak boleh ada yg membuatmu lemah. Jika kamu mendengarkan mereka, kamu akan kalah. Jangan dikalahkan org lain. Kamu hanya boleh dikalahkan dirimu sendiri. ~Choi Chun Sol

Sebenarnya ada banyak kata bijak di film ini. Tapi yang oke menurutku yang di atas ini.

Rating: Untuk film ini aku beri rating 4,5 dari skala 5.

Informasi Film:
Judul Film: Live Up to Your Name / Deserving of the Name
Jumlah Episode: 16
Genre: Fantsy, Drama, Time Travel, Medical
Rilis: Agustus – Oktober 2017
Network: tvN
Pemain:
Kim Nam Gil sebagai Heo Im
Kim A Joong sebagai Choi Yun Kyung
Yoo Min Kyu sebagai Yoo Jae Ha
Yun Ju Sang sebagai kakeknya Choi Yun Kyung
Kim Myung Gon sebagai Ma Song Tae

[Review Buku] Attachments

Lincoln masih belum percaya bahwa pekerjaannya sekarang adalah membaca E-mail orang lain. Saat ia melamar pekerjaa sebagai petugas keamanan internet, pemuda itu mengira ia akan membangun firewall dan melawan hacker, bukannya memberi peringatan pada karyawan yang mengirim E-mail berisi lelucon jorok seperti sekarang.

Beth dan Jennifer tahu bahwa ada seseorang di kantor yang memonitor E-mail mereka. Hal itu adalah kebijakan kantor. Namun, mereka tidak menganggapnya serius. Mereka bertukar E-mail tentang hal-hal paling pribadi.

Saat Lincoln menemukan E-mail Beth dan Jennifer, pemuda itu tahu ia harus melaporkan mereka berdua. Namun ia tidak bisa. E-mail mereka terlalu menarik untuk dilewatkan.

Hanya saja, saat Lincoln sadar ia mulai jatuh hati pada salah satunya, sudah terlalu terlambat untuk memulai perkenalan.

Lagi pula, apa yang bisa ia katakan…?

* * *

Yang di atas itu adalah sinopsis yang ada di bagian belakang buku. Buku ini aku beli karena penasaran sama ending ceritanya. Semenarik apa sih E-mailnya Beth dan Jennifer sampai-sampai Lincoln nggak bisa melaporkannya? Lalu, bagaimana kisah cinta Lincoln? Jatuh cinta sama siapa? Beth atau Jennifer?

Cerita di buku ini ternyata semenarik sinopsisnya. Buku yang beralur maju mundur ini mengisahkan tentang kehidupan Lincoln; bagaimana pekerjaannya, kesehariannya, dan tentang kisah cintanya di masa lalu maupun masa kini.

Lincoln adalah pemuda biasa-biasa saja. Ia cenderung nggak percaya diri. Kisah cinta masa lalunya membuatnya sulit untuk menemukan kekasih baru. Ia lebih suka berkumpul dengan beberapa sahabat lamanya untuk bermain game di akhir pekan.

Di usianya yang sudah matang ini seharusnya Lincoln tinggal di apartemen sendiri seperti semua orang pada umumnya. Namun ia masih tinggal bersama ibunya yang pandai memasak. Kakak perempuan Lincoln selalu berusaha memotivasi Lincoln agar menentukan jalan hidupnya yang menurutnya agak membosankan. Tetapi Lincoln merasa hidupnya cukup menyenangkan hingga suatu saat ia menyadari bahwa membaca E-mail orang di kantornya adalah pekerjaan yang ‘berdosa.’

Tokoh lain di buku ini adalah Beth dan Jennifer. Mereka berdua adalah teman sekantor Lincoln. Masing-masing punya kisah hidup sendiri. Beth mempunyai seorang kekasih yang tampan yang berprofesi sebagai gitaris sebuah band. Sebenarnya itu bisa dibilang bukan pekerjaan. Beth dan kekasihnya sudah lama tinggal bersama. Namun mereka belum juga menikah. Beth merasa frustrasi karena satu per satu sanak keluarganya menikah tetapi ia sendiri belum juga dilamar sang kekasih. Beth sendiri bukannya wanita yang menggantungkan hidup pada pacar. Ia malah adalah seorang yang mandiri, menarik, enerjik, dan berkarir cemerlang. Tetapi nasibnya bisa dibilang belum beruntung dalam urusan percintaan.

Jennifer, sahabat Beth, sudah menikah cukup lama. Tetapi ia belum dikaruniai anak. Jennifer merasa takut untuk memiliki anak. Padahal suaminya selalu berharap memiliki anak. Suatu hari, Jennifer merasa ada yang aneh dengan perutnya. Ia pun tiba-tiba membeli pakaian anak-anak yang cantik di sebuah toko. Jennifer hamil. Awalnya ia merasa ada monster dalam perutnya. Namun lambat laun, ia mulai menyukai apa yang terjadi pada dirinya. Ia memberitahukannya pada ibunya dan mulai berdamai dengan dirinya sendiri. Hubungannya dengan suaminya pun menjadi semakin mesra.

Obrolan Beth dan Jennifer tentang curhatan sehari-hari melalui E-mail tak pernah dilewatkan Lincoln. Ia pun lalu jatuh cinta pada salah satu dari mereka. Walaupun sekantor, Lincoln tidak pernah bertemu dengan kedua orang tersebut karena kantor mereka terdiri dari banyak divisi dan jam kerja mereka berbeda. Lincoln pun diam-diam berusaha mencari tahu tentang wanita yang disukainya.

Intinya, buku ini menceritakan tentang kekepoan Lincoln terhadap Beth dan Jennifer. Kalian tahu, kepo tuh nggak baik kan? Makanya… don’t do it at home!! *ups, salah… maksudnya jangan suka terlalu kepo kalau nggak mau kena batunya, walaupun sebagian orang berkata kepo is care.

Ceritanya tidak hanya tentang kekepoan Lincoln sih, tapi juga tentang kegalauan Lincoln terhadap hidupnya. Haruskan ia bertahan bekerja atau keluar saja, haruskah ia tinggal terpisah dari ibunya seperti orang-orang pada umumnya, haruskah ia berterus terang pada orang yang disukainya? Dan dari buku ini aku belajar bahwa dalam hidup ini ada banyak pilihan dan semua ada risikonya, baik atau buruk. Walaupun teman-teman dan keluarga memberikan saran ini-itu, tetap saja keputusan ada di tangan kita karena kehidupan kita ini kita sendiri yang menjalaninya. Bukan mereka.

Nah, untuk ending dari buku ini….  Bikin greget banget! Aku mengharapkan endingnya bisa diperpanjang, bisa lebih detail menceritakan bagaimana pertemuan Lincoln dengan wanita yang disukainya, lalu bagaimana kisah cinta mereka berlanjut. Tapi yang dibahas di endingnya hanya sekilas. Penonton agak kecewa. Kalau aku ketemu sama pengarangnya, pengen banget minta beliau bikin sesi keduanya. Tapi ini kan bukan film yang bisa dibikin sampai sesi ketiga dan seterusnya. Jadi… ya sudahlah…. sakit terobati dengan kisah-kisah Lincoln, Beth, dan Jennifer yang bikin penasaran banget. Kalian pasti penasaran juga kan dengan siapa yang disukai Lincoln?

Untuk buku ini aku beri rating 3,8 dari skala 5. Buat kalian yang suka novel bergenre romance dan drama, baca deh buku ini. Bukunya lumayan menghibur, lho!

Informasi Buku:
Judul Buku: Attachments
Pengarang: Rainbow Rowell
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: 2015
Jumlah halaman: 436 halaman
Genre: drama, romance
ISBN: 978-602-71505-5-3

Tumis Daging Cincang ala Cafe Latte

Sore itu, seperti biasa aku dan ketiga temanku berkumpul di Cafe Latte. Obrolan hari itu masih sama seperti obrolan beberapa hari sebelumnya dan beberapa minggu yang lalu. Ya, masih tentang si Wippie, teman sekampus kami.

“Kalian tahu, kemarin si Wippie bilang suaraku bagus. Dia minta tolong aku bantuin EOnya. Katanya salah satu singer yang biasa kerja sama dengannya lagi sakit,” ujar Jolly membuka pembicaraan hari ini.

“Terus, kamu terima tawaran dia?” tanya Tessa.

“Ya nggaklah. Aku nggak mau nanti kejadian yang sama terulang kembali. Bukannya nggak mau bantuin dia. Tapi, kita kan harus belajar dari pengalaman,” jawab Jolly.

“Baguslah kalau kamu nggak terbujuk rayuannya,” kataku.

“Iya, kenapa sih ada orang nyebelin kayak si Wippie itu? Kalau lagi ada maunya, dia manis banget. Begitu sudah nggak ada perlu sama kita, jangankan nyapa, noleh aja nggak!” seru Mita.

“Bener banget! Dulu aku pikir dia itu baik banget. Dia aktif hampir di semua kegiatan kampus. Suka jadi pembicara. Motivator kampus yang oke banget. Tapi ternyata sifatnya nggak sesuai sama ….. Ah, nyebelin banget!!” ujar Tessa.

“Kalian masih ingat dia pernah janji sama kita untuk datang ke acara konser kalau kita bisa bantuin dia ngerjain tugas EOnya?” tanyaku.

“Ah, betul! Waktu itu kita semua bantuin dia. Katanya dia bakal kasih kita tiket konser EXO!” jawab Mita.

“Bukannya konser EXO tuh malam ini?” tanya Jolly.

“Iya. Hari ini. Malam ini,” jawabku.

“Tapi kita nggak dikasih tiketnya. Bohong banget si Wippie ini! Sudah berapa kali dia kayak gini. Bikin kesel aja!” ujar Tessa.

“Aku sih nggak ngarepin tiket itu atau apapun janji-janjinya. Tapi caranya si Wippie tuh nggak bagus banget. Minta bantuan sama orang. Trus janji bakalan begini-begitu sama yang bantuin dia. Eh, tapi satu pun janjinya nggak ada yang ditepati. Capedeh,” keluh Mita.

“Serius nyebelin banget tuh anak! Dia kayak gitu bukan sama kita aja. Tapi sama anak-anak lain di kampus juga begitu. Huh!” seru Jolly.

Kemudian ketiga temanku berbarengan menatapku. Tatapan penuh harap. Aku balas menatap mereka. Lalu kuanggukkan kepalaku.

* * *

Hari ini, kami berkumpul lagi di Cafe Latte. Cafe milik keluargaku yang sudah diserahkan pengelolaannya padaku begitu aku lulus SMA.

“Menu spesial hari ini! Tumis daging cincang ala Cafe Latte! Untuk menghibur kalian atas semua perlakuan si Wippie!” seruku sambil menunjukkan sepiring besar masakan yang sudah kusiapkan di meja.

“Kamu yang masak?” tanya Mita dengan mata berbinar.

“Yup! Pokoknya mulai dari persiapan bahannya sampai penyelesaiannya semua aku yang kerjakan,” jawabku.

“Wow! Keren!” seru Jolly. Ia berdecak kagum.

“Wuahhh! Aku nggak percaya ini! Kamu bisa masak seperti ini…. Ini mewakili perasaan kami atas kelakuan si Wippie?” tanya Tessa. Antusias melihat masakan yang ada di hadapannya.

“Ya, begitulah!” jawabku. “Nah, karena semua sudah berkumpul di sini, mari makan!!”

“Asyiiikkk!” seru mereka bertiga berbarengan.

“So… Jangan khawatir lagi mulai hari ini. Nggak bakal ada lagi orang bernama Wippie yang bikin kesal kalian dan anak-anak kampus lainnya,” kataku.

* * *
Dan, jika ada orang yang sangat menyebalkan di sekitar kalian, yang saking menyebalkannya bikin kalian ingin mencekiknya… Jangan sungkan untuk menceritakannya padaku. Karena… Aku akan membantu kalian. Akan kubuat orang itu memohon-mohon maaf pada kalian dalam fiksi yang kubuat. Akan kubuat orang itu bungkam dalam sebuah cerita. Atau… akan kubuat manusia menyebalkan itu menjadi masakan paling unik yang pernah disajikan di Cafe Latte. Tentunya hanya dalam fiksi….

* * *

Ya… namanya juga fiksi kan?? Penulis bisa bikin cerita apa saja sesuai kehendaknya. Makanya…. jangan menyakiti hati penulis kalau nggak mau dijadiin daging cincang dalam fiksi yang dibuatnya. Hehehe….

Surat Buat Kamu, Wahai Single Ladies

foto: dokumen pribadi

Kalian tahu apa yang ditakutkan para single, jomblowan dan jomblowati sedunia yang sudah berumur di atas dua puluh lima? Iyesss betul!! Pertanyaan garing kriuk-kriuk yang berbunyi: “Kapan nikah?’, “Mana pacarnya?”, “Kapan nyusul si anu?”, dan pertanyaan sejenisnya.

Bukannya aku tak ingin menikah dan membina keluarga. Tapi…. pengalaman teman-teman sebayaku dan pengalamanku dalam keluarga membuatku agak sungkan untuk menikah.

Sebut saja Maria, seorang teman yang cantik jelita. Ia menikah begitu lulus kuliah. Setahun kemudian ia dikaruniai seorang bayi imut menggemaskan. Sepertinya keluarganya bahagia. Tapi ternyata tidak demikian. Di tahun ketiga, ia bercerai. Alasannya sudah tak cinta lagi. Aku selalu bertanya dalam hati, ‘kok bisa?’

Lalu ada seorang sahabat lainnya, Shania. Ia wanita berparas biasa-biasa saja dan dari keluarga biasa. Namun ia rajin bekerja. Di usianya yang masih muda, ia bisa menduduki posisi manajer di kantornya. Ia lalu menikah dengan seorang pria tampan dari keluarga kaya. Kisahnya waktu itu bagai kisah Cinderella saja. Lima tahun menikah, tapi mereka belum dikaruniai seorang anak. Lalu mertuanya memisahkan ia dari suaminya. Ia kembali ke rumah orangtuanya. Pernikahannya kandas karena ia dianggap tidak bisa menghasilkan keturunan. Padahal, dari hasil ceritanya, ia dan suaminya sama-sama tidak mandul. Hanya belum diberi rezeki saja.

Ada juga seorang tetangga, sebut saja namanya Jeanny. Mbak Jeanny sudah 10 tahun menikah. Tapi ia tidak bahagia karena sering terdengar suara ribut-ribut di rumahnya. Suaminya kerja serabutan – kadang bekerja kadang tidak. Tergantung dari moodnya. Tidak punya pekerjaan tetap. Sedangkan Mbak Jeanny sendiri hanya seorang ibu rumah tangga yang mengurus 3 orang anak. Parahnya sang suami adalah orang yang ringan tangan. Mbak Jeanny dan anak perempuannya kerap dipukul jika mood sang suami sedang tidak bagus. Namun kedua anak laki-lakinya terlampau dimanja oleh sang suami. Benar-benar tidak adil!

Begitu banyak cerita pernikahan tak bahagia yang kulihat. Tentunya ada juga cerita yang bahagia. Kisah cintaku sendiri tidak ada yang berjalan mulus. Aku pernah dekat dengan orang-orang yang aneh, mulai dari si tukang marah-marah, si tukang cemburu yang over posesif, si ganteng yang ternyata punya banyak wanita, si tukang manfaatin plus morotin, dan lain-lain yang aneh-aneh. Okelah, di dunia ini tidak semuanya buruk, kan? Mungkin aku belum bertemu yang baik saja.

Begitulah… Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Akhirnya usiaku menginjak kepala tiga. Om-Tante, Kakek-Nenek, Bude-Pakde, Eyang Putri-Eyang Putra, sanak kerabat handai dan taulan semakin gencar menanyakan pertanyaan laknat itu. Ibu-Bapakku pun mulai menjadi cacing kepanasan lantaran berbagai pertanyaan yang terdengar bagaikan hujatan. Aku pun demikian. Gerah! Risih! Bikin mau marah-marah!

Suatu ketika ada seorang teman mengenalkanku dengan seorang pemuda tampan. Ia seorang pengusaha, juga seorang yang soleh karena ia aktif di organisasi keagamaan dan juga rajin beribadah. Nilai plusnya banyak tentunya. Jadi, tak perlu lama-lama pacaran kamipun menikah.

Setahun kemudian kami dikaruniai seorang putra yang tak kalah tampan dari ayahnya. Dua tahun berikutnya lahir lagi seorang putra. Di tahun ketiga pernikahan kami, perekonomian lagi lesu. Usaha suamiku sedikit terkendala. Ia jadi seirng uring-uringan setelah pulang ke rumah. Aku berusaha bersabar dan mencoba mengerti keadaannya. Aku pun selalu berusaha menghiburnya.

Karena usaha suamiku sedang tidak lancar, akupun membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sambilan. Jualan makanan yang kubuat sendiri, jual kosmetik, pokoknya jual apa saja dan yang pasti tidak jual diri. Tapi, suamiku bukannya berterima kasih ia malah memaki-makiku. Ia tidak setuju aku berjualan. Ia menyuruhku berhenti berusaha. Padahal, ia sendiri tahu pengeluaran dalam sebulan tidaklah sedikit. Uang yang dihasilkannya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Masa tiap bulan harus menjual harta? Kalau begitu, bagaimana anak-anak kami akan bersekolah nanti? Minta uang dengan orangtua kami? Berhutang? Oh, berhutang dan meminta-minta tidak ada dalam kamusku.

Akhirnya kami jadi sering bertengkar masalah uang. Lalu merembet ke masalah keluarga-ipar-mertua-anak. Dan puncaknya, suamiku minggat dari rumah. Aku tak tahu ia ke mana. Keluarganya pun tak tahu. Mereka malah menyalahkanku tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangga. Aku pun akhirnya kembali ke rumah orangtuaku dengan membawa kedua anakku.

Tahun ini, anakku yang sulung sekolah di TK. Biayanya dari orangtuaku. Miris sekali. Aku begitu malu. Bagaimana nanti kalau ia masuk SD dan si kecil masuk TK?

Lalu, dalam keadaan seperti ini ibuku berkata, “Kalau tahu nasibmu akan jadi begini, mending dulu kamu tidak usah menikah saja. Mending kamu hidup single tapi bahagia…”

Kadang aku sering bertanya dalam hati…. “Memangnya salah kalau tidak menikah? Apakah menikah itu suatu kewajiban? Lalu… apakah orang yang tidak mau menikah itu berdosa?”

Dear Ladies yang belum menikah…. Tolong pikirkan baik-baik sebelum kamu memutuskan untuk menikah. Jangan tergoda oleh wajah tampan. Jangan terbuai oleh harta. Jangan pula jadi cacing kepanasan lantaran kamu sudah berumur dan semua orang mencecarmu dengan pertanyaan garing itu. Juga… jangan langsung percaya jika ada orang yang aktif di organisasi keagamaan dan rajin beribadah. Bisa saja itu kedok, kan? Kamu harus mencari tahu dulu tentang calonmu juga tentang keluarganya. Jangan terburu-buru!

Hidup ini…. kamu yang menentukan. Bukan kata orang lain! Bukan karena lingkungan begini maka kamu harus ngikut begini juga! Bahagia atau tidak bahagia, semua kamu yang tentukan. Bukan orang lain.

Semoga kalian yang masih single dan jomblo bisa menemukan pasangan yang baik dan berbahagia. Buat kalian yang sudah menikah, semoga bisa langgeng dan berbahagia selamanya. Janganlah kamu menjadi seperti AKU.

.

* * *

*kisah ini fiksi namun beberapa bagian ceritanya berdasarkan kisah nyata