Prompt #143 – The Last Dance

Suasana istana pada malam itu sungguh meriah. Ya, King Earnest mengadakan pesta dansa untuk mencari pendamping yang pantas bagi putranya, Prince Walker. Seluruh gadis dari berbagai penjuru negeri diundang untuk hadir ke pesta itu. Mereka berdandan habis-habisan di malam itu agar sang pangeran melirik mereka.

Satu jam berlalu, namun sang pangeran masih berputar-putar ke sana-ke mari tanpa tujuan yang jelas. Berpasang-pasang mata menatap memohon padanya namun ia tak menggubris mereka. Ia hanya berjalan, melihat-lihat, dan tersenyum pada siapa pun yang menatap langsung padanya.

“Apa yang ada di pikirannya? Semua gadis di sini cantik-cantik! Kenapa lama sekali ia memilih?” gerutu Queen Giovanna.

“Sabar, Ratu. Biarkan ia memilih,” ujar King Earnest menenangkan istrinya.

“Apa ada yang ditunggunya? Cinderella?” gerutu Ratu lagi.

“Sudahlah… Biarkan putra kita melihat-lihat dan mengamati dulu,” balas Raja.

“Kenapa dia tidak menuruti saranku saja untuk menikah dengan Princess Yvonne? Dia malah memilih untuk mengadakan pesta dansa seperti ini. Lihat, sekarang ia kebingungan memilih wanita yang akan dijadikannya pendamping! Apa dia tak berpikir sudah berapa umurnya sekarang?”

King Earnest diam saja. Ia mengamati gerak-gerik putra satu-satunya. Kemudian nampak olehnya seorang wanita muda bergaun biru muda mendekati putranya.

Prince Walker menatap wanita bergaun biru muda di hadapannya tak berkedip. “Kau….,” katanya. Suaranya tercekat.

“Lama tak bertemu, Prince Walker,” kata wanita itu. “Mari berdansa denganku.”

Sang pangeran seperti terkena sihir mengikuti perkataan wanita itu. Mereka berdansa di tengah-tengah ruang pesta diiringi lagu Liebestraum – Love Dreamnya Franz Liszt.

“Cinderellaku, bagaimana mungkin kau tak bertambah tua?” bisik Prince Walker.

“Maaf, aku bukan Cinderella. Aku Thalia. Putri dari Cinderella, kekasihmu yang kau tinggalkan 20 tahun lalu… Ayah.”

Prince Walker melepaskan genggaman tangan wanita itu. Seketika, penyakit jantungnya kumat.

sumber gambar: mondayflashfiction.com

#FFKamis – Nomor Tak Dikenal

Sudah tiga malam, ponselku mendapat panggilan dari nomor tak dikenal. Setiap kali aku ingin menekan tombol jawab, panggilan terputus, seolah-olah tahu kalau aku akan menjawabnya. ‘Mungkin ulah orang iseng!’ pikirku.

Hari ini, nomor yang sama menghubungiku lagi. Seperti biasa, belum sempat kujawab, panggilan diputuskan. Karena kesal kugunakan aplikasi yang bisa mengetahui dari daerah mana nomor tersebut. Aku menekan tombol panggilan untuk menelepon nomor tersebut. Tertera sebuah lokasi di layar. Solo.

Sebuah suara yang tak asing menjawab panggilanku, “Hai… Kuharap kau segera menyusulku…”

Mendadak aku teringat dengan mantanku yang bunuh diri di kontrakannya di Solo karena kuputuskan dua bulan yang lalu.

[Review Buku] Scheduled Suicide Day

Teaser:
Ruri yakin ibu tirinya telah membunuh ayahnya. Tak sanggup hidup bersama ibu tirinya, Ruri bertekad bunuh diri untuk menyusul ayahnya.
Ruri akhirnya pergi ke desa yang terkenal sebagai tempat bunuh diri. Tapi dia malah bertemu dengan hantu seorang pemuda yang menghentikan niatnya. Hantu itu berjanji akan membantu Ruri menemukan bukti yang disembunyikan oleh ibu tirinya, dengan janji ia akan membiarkan Ruri mencabut nyawanya seminggu kemudian jika bukti tersebut tidak ditemukan.
Itulah jadwal bunuh diri Ruri: satu minggu, terhitung dari hari itu.

Review:
Satu lagi novel dari Penerbit Haru yang bergenre misteri. Ceritanya tentang Ruri, siswa SMA yang tak punya teman. Sebelum ayahnya meninggal, ibu Ruri terlebih dahulu meninggal. Dua tahun sesudahnya, ayahnya mempekerjakan seorang wanita muda bernama Reiko. Mengaku sebagai penggemar berat Tuan Watanabe, Reiko pun dapat mengambil hati ayah Ruri tersebut, hingga akhirnya mereka menikah.

Namun Ruri tentu saja tidak suka dengan ibu tirinya ini. Ia merasa ada yang aneh dengan wanita modis tersebut. Suatu hari Ruri melihat Reiko sedang berada di ruang kerja ayahnya. Yang terjadi saat itu ternyata ayah Ruri tak bernapas. Ayah Ruri dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit. Namun Ruri tidak percaya begitu saja omongan dari dokter. Ia pun mencari Paman Tanabe, sahabat ayahnya yang berprofesi sebagai dokter. Setelah mendengar penjelasan Paman Tanabe, Ruri masih tak percaya. Ia yakin ibu tirinyalah yang membunuh ayahnya. Karena di saat ayahnya meninggal di ruang kerjanya, Ruri melihat Reiko memegang sebuah botol kecil. Tetapi setelah kematian ayahnya, botol itu tidak dia temukan di mana pun, bahkan jurnal harian milik ayahnya ikut hilang.

Ruri tak tahan dengan tingkah Reiko yang semakin lama semakin jadi. Reiko bahkan bisa dengan mudah tersenyum dan mengisi acara di televisi menggunakan bisnis ayahnya. Uang asuransi ayahnyapun entah ke mana walaupun Reiko mengatakan uang tersebut masuk ke perusahanaan. Akhirnya Ruri memutuskan untuk bunuh diri di sebuah desa. Sebelum pergi ke desa itu, ia telah browsing di internet tentang apa saja yang dibutuhkannya untuk bunuh diri dan di mana letak hutan yang terkenal sebagai tempat bunuh diri itu.

Suatu hari saat liburan musim panas, tibalah Ruri di Desa Sagamino, tempat ia akan melakukan bunuh diri. Ruri menginap di sebuah penginapan tradisional yang nyaman. Setelah meninggalkan surat wasiat, ia pun menuju hutan pada malam hari. Di hutang, ia mulai melancarkan aksinya, melilitkan tali ke sebuah dahan pohon, membuat simpul untuk dikalungkan di lehernya, lalu berdiri di sebuah bangku kecil.

Ruri menendang bangku kecilnya. Lehernya terjerat tali. Tak lama kemudian, ia merasa sekelilingnya putih. Tapi… ternyata rencananya gagal. Ia tidak mati melainkan terjatuh ke tanah. Di hadapannya ada hantu pemuda. Hantu yang mengaku telah meninggal dua tahun yang lalu karena bunuh diri itu membujuknya untuk tidak bunuh diri. Ia bercerita bahwa ia menyesal karena telah bunuh diri. Bunuh diri menyebabkannya menjadi hantu gentayangan yang tidak bisa apa-apa dan terikat di tanah desa itu selamanya. Karena itulah hantu itu tidak ingin Ruri bernasib sama dengannya. Tapi Ruri masih bersikeras untuk bunuh diri.

Akhirnya Ruri dan hantu itu membuat kesepakatan. Jika Ruri tidak berhasil menemukan bukti bahwa Reiko membunuh ayahnya maka ia boleh bunuh diri. Waktunya seminggu.

Ruri yang percaya pada ramalan fengshui melakukan segala cara untuk menemukan bukti bahwa ibu tirinya benar-benar jahat dan telah membunuh ayahnya. Sambil melihat perhitungan hari baik dan hari sial, Ruri bolak-balik dari Desa Sagamino-Tokyo untuk mencari bukti. Ia mengatakan pada ibu tirinya bahwa ia menginap di rumah teman agar ibunya itu tidak curiga.

Tetapi, mendekati hari terakhir, aksi Ruri ketahuan oleh ibu tirinya. Saat Ruri sedang mencari bukti di rumahnya, ibu tirinya pulang ke rumah. Mereka bertemu. Ruri tak dapat mengelak lagi.

JRENG! JRENG!

Selanjutnya baca sendiri bukunya ya…. Pokoknya ceritanya sangat seru!

Dari buku ini kita bisa belajar kata-kata dalam bahasa Jepang, dan macam-macam jenis masakan yang enak. Bacanya bikin baper (bawaan laper) karena deskripsi makanannya yang oke banget. Selain itu buku ini juga mengajarkan kita agar menghargai kehidupan, jangan terlalu percaya pada ramalan, lebih baik percaya diri saja, dan jangan berpikir buruk tentang orang lain.

Rating dari saya untuk novel remaja ini adalah 4 dari skala 5 bintang.

Informasi Buku
Judul Buku: Scheduled Suicide Day
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Kategori Buku: J-Lit
Genre: Misteri
Tahun Terbit: 2017
Jumlah halaman: 280
ISBN: 978-602-6383-19-8

Prompt #142 – Menggambar Teman Baik

“Oke anak-anak, tugas kalian di rumah adalah menggambar teman baik kalian. Jangan lupa gambarnya diwarnai pakai pensil warna, ya,” kata Bu Wani mengakhiri pelajaran hari itu di kelas 2 SD Karang Sari.

“Baik, Bu,” sahut murid-muridnya.

Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi. Semua siswa membereskan buku dan alat tulis mereka. Setelah berdoa dan berjabat tangan dengan guru mereka pulang.

“Kamu mau gambar siapa, Shin?” tanya Dian pada Shinta.

“Tentu saja gambar kamu,” jawab Shinta.

“Asyik! Buat gambar yang bagus, ya. Trus pakaikan aku baju warna pink!” sorak Dian.

“Oke! Asalkan kamu juga bikin gambarku,” pinta Shinta.

“Eh, Melia… Kamu mau gambar siapa?” tanya Dian pada Melia yang berjalan di belakang mereka.

“Hmmm… .Mungkin aku akan menggambar Bella,” jawab Melia singkat.

“Bella? Siapa itu?” tanya Dian lagi.

“Teman baikku,” jawab Melia.

* * *

Sore hari, Melia mengeluarkan semua peralatan menggambarnya. Buku gambar, pensil, penghapus, dan pensil warna diletakkannya di atas meja belajarnya. Lalu ia mulai menggambar, diawali dari kepala, kemudian badan, lalu tangan dan kaki. Gambarnya sederhana, khas anak-anak.

Kira-kira setengah jam kemudian ibu Melia masuk ke kamar putrinya. Ia mengintip dari bahu putrinya, ingin tahu apa yang dikerjakan anak satu-satunya itu.

“Adek lagi gambar apa?” tanya ibu Melia.

 

“Bikin gambar si Bella, Ma,” jawab Melia.

“Bella? Itu tugas dari sekolah?” tanya ibunya lagi sambil terus memperhatikan Melia yang sedang asyik mewarnai gambarnya.

“Iya, Ma. Tadi Bu Wani menyuruh menggambar teman baik. Ini gambar teman baik Adek,” jelas Melia

“Oh, tapi warnanya kok cuma abu-abu dan hitam? Adek nggak kasih warna merah atau kuning? Kalau warnanya cerah kan lebih bagus. Trus kulit manusia itu warna coklat muda, Dek. Bagaimana kalau gambarnya dibuat lagi saja?” saran ibu Melia

“Tapi ini sudah benar, Ma. Bella warnanya abu-abu dan rambutnya hitam. Dia nggak pernah pakai warna lain!” protes Melia.

“Ehm! Begitu ya… Bella itu teman sekelas Adek?” tanya ibu Melia, bingung.

“Nggak. Bella itu teman baik Adek. Itu dia lagi duduk di ranjang,” jawab Melia sambil menunjuk ke ranjangnya yang cuma ada bantal dan guling saja di atasnya.

Benarkah Kerang Nggak Baik untuk Dikonsumsi?

Benar –> kalau dikonsumsi oleh ibu hamil

Benar –> kalau cara memasaknya tidak tepat

Benar –> kalau kerangnya dibeli dari tempat yang tidak terpercaya

* * *

Beberapa hari yang lalu ada orangtua siswa bercerita tentang anak-anak autis. Ibu ini bercerita suatu waktu ia sedang di tempat terapi anak-anak autis. Terapis di sana mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan anak jadi autis adalah jika si ibu mengkonsumsi kerang saat hamil.

Seorang guru sekolah tempat saya kerja, Ms. Liana, juga mengatakan hal yang sama. Alasannya adalah kerang bisa hidup di daerah terpolusi. Kerang bisa menyerap apa saja termasuk polutan. Jadi kalau ibu hamil memakan kerang yang diambil dari tempat terkena polusi, maka zat polutan akan ikut diserap tubuhnya. Ini yang menyebabkan anaknya bisa menjadi autis.

Sumber di internet yang bisa dibaca tentang resiko dan manfaat kerang ada di sini: http://www.carakhasiatmanfaat.com/artikel/nutrisi-resiko-dan-manfaat-kerang.html

Boleh sih makan kerang untuk yang nggak hamil, asal belinya di tempat terpercaya, yang bisa menjamin kerangnya berasal dari tempat yang bersih. Cara masak kerang juga perlu diperhatikan, harus direbus terlebih dahulu baru diolah. Jangan membeli kerang yang berbau dan bersihkan dahulu sebelum diolah.

* * *

Kamu…. Suka nggak makan kerang?

 

#FiksiKamis – Mencari Buku yang Hilang

Hari ini aku mendapat tugas membuat resensi novel bergenre misteri dari guru Bahasa Indonesiaku. Otakku langsung berputar memikirkan buku apa yang akan kupakai. Setibanya di rumah, aku langsung membuka lemari bukuku. Kuperhatikan judul-judul buku yang ada dalam lemari.

‘Ke mana bukuku yang satu itu?’ pikirku sambil membongkar lemari untuk mencari sebuah buku. Tapi bukunya tak kutemukan. Aku pun mencarinya di kamar kakakku dan seluruh ruangan di rumah. Tetapi bukunya tidak ketemu.

‘Jangan-jangan dipinjam oleh Sani,’ pikirku. Temanku yang satu ini memang sering meminjam novelku. Dan kalau ia meminjam buku pasti lama sekali mengembalikannya. Itupun harus ditagih berkali-kali.

Kuambil ponselku lalu kukirim pesan ke Sani.

“San, kamu pinjam novelku nggak ya? J-Lit, Girls in the Dark. Soalnya aku mau pakai novel itu untuk tugas Bahasa Indonesia,” ketikku.

Tak lama kemudian Sani membalas. “Nggak, tuh! Semua novel yang kupinjam darimu sudah kukembalikan minggu lalu. Ingat?”

“Ah, masa sih? Kamu yakin nggak ada novelku yang tertinggal di rumahmu?” tanyaku lagi. Tidak yakin padanya. Sani pelupa, sih!

“Sebentar. Aku cek dulu,” jawab Sani.

Aku menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian ponselku berdenting. Sani mengirim pesan padaku, “Nggak ada, Rien. Aku sudah bongkar semua laciku. Novelmu sudah kukembalikan semua. Yakin 100%!”

“Oke deh. Thanks ya,” balasku, walaupun masih ragu dengan pernyataan Sani.

Berikutnya aku mengirim pesan di grup kelasku di Line. Kami punya grup khusus kelas untuk berbagi info atau sekadar untuk chatting nggak jelas.

“Halo semuanya. Siapa yang merasa meminjam novelku? Judulnya Girls in the Dark, karangan Akiyoshi Rikako,” ketikku.

“Aku nggak suka baca novel. Jadi bukan aku yang pinjam,” balas Panji.

“Novel apa tuh? Kalau sudah ketemu aku pinjam ya,” balas Amy.

“Bukannya Sani yang sering pinjam novelmu?” balas Aldo.

“Iya, betul! Coba tanya Sani!” balas Tina.

“San… Sani… Balas chat di grup, dong!” ketik Maria.

Beberapa menit kemudian Sani ikut nimbrung obrolan di grup.

“Rien sudah tanya aku tadi. Bukan aku yang pinjam,” jawab Sani.

“Lo yakin, San? Biasanya kamu yang suka pinjam bukunya Rien,” kata Aldo.

“Iya, bukan aku,” balas Sani.

“Beneran nih, San? Biasanya kamu tuh pelupa. Sudah dicari sampai ke kolong ranjang belum?” balas Maria.

“Aku yakin 100% nggak pinjam buku itu,” jawab Sani.

Ah, Sani memang begitu. Selalu yakin 100% tapi nanti pasti dia tiba-tiba bilang maaf karena menemukan bukunya terselip entah di mana, pikirku sambil mengaduk-aduk laci lemari di bawah TV.

“Nak Rien cari apa?” tanya mbok Sumi, mengagetkanku.

“Eh… Ini mbok. Cari buku. Judulnya Girls in the Dark. Sampulny bergambar kartun cewek pakai seragam kelasi,” jawabku.

“Yang gambar cewek Jepang itu ya?” tanya mbok Sumi lagi.

“Kok mbok tahu?” aku balik bertanya.

“Buku itu kan lagi dibaca oleh Wiwied. Nak Rien yang meminjamkannya… Kalau nggak salah dua minggu yang lalu,” jelas mbok Sumi.

Ya ampun… Jadi buku itu kupinjamkan ke anaknya mbok Sumi? Astaga! Aku benar-benar lupa! Bagaimana ini??

Ting Tong! Ponselku berbunyi. Nada pemberitahuan dari grup kelas. Dina mengirimkan pesan, “Wah, jadi hilang ke mana bukumu, Rien? Nggak ada yang ngaku, nih! Apa perlu kita lapor polisi? Biar tahu rasa yang pinjam nggak balikin itu!”

Lama kupegang ponselku. Akhirnya kuketikkan pesan ke grup kelasku, “Errr… Sori guys, bukunya udah ketemu nih! Ternyata ada sama Wiwied, anaknya mbok Sumi!” Lalu kutambahkan emo ngakak guling-guling. Seketika grup kelasku kembali ramai dengan berbagai macam emoticon.

Prompt #140 – Hitam Putih

Duniaku adalah dunia hitam-putih. Duniaku tanpa warna merah, kuning, atau biru. Namun aku suka. Bagiku hitam dan putih sudah cukup berwarna.

Namun suatu ketika kau tiba dan mengetuk pintu hatiku. Aku tak ingin membukakannya untukmu. Karena aku tak ingin lagi disakiti. Tapi apa daya aku terjerumus dalam pesonamu.

Kaupun mulai mengenalkan bermacam-macam warna padaku. Merah, untuk senyuman yang menghiasi bibirku saat kau memuji diriku. Kuning, untuk waktu yang kauluangkan untukku. Hijau, untuk semua percakapan dan obrolan kita. Juga biru, untuk saat-saat di mana aku merindukanmu.

Lagu-lagu yang kumainkan pun mulai bervariasi. Aku tak hanya memainkan lagu bernada sendu semacam Jardin Secret, tetapi mulai memainkan yang ceria seperti lagu Souvenirs D’Enfance, La Musique de L’amour, Ballade pour Adeline, sampai Music Box Dancer. Semua lagu yang kumainkan, kumainkan hanya untukmu. Semua lagu yang kunyanyikan, kunyanyikan hanya untukmu.

Aku begitu bahagia hingga merasa dunia ini penuh bunga. Bunga… Yang kuharap dikirimkan olehmu hanya untukku. Namun harapan tinggal harapan. Rupanya… Aku menyalah-artikan perhatianmu padaku. Kukira kau suka padaku. Kukira kau jatuh cinta padaku.
Suatu ketika kulihat kau dan seorang wanita duduk berdua, saling menatap dengan mesra. Kalian bergandeng tangan. Berfoto bersama. Dan kemudian kau pergi bersamanya. Meninggalkanku. Sendiri.

Tiada lagi canda-tawa. Pun senyum semringah yang terukir di wajahmu saat kulantunkan sebuah lagu untukmu. Tak mengapa. Kuharap kau bahagia dengan dirinya.

Warna-warni yang menghiasi hari-hariku mulai memudar. Dan aku kembali ke dunia hitam-putihku. Hitam-putih dan Jardin Secret. Hitam-putih dan Triste Coeur. Hanya hitam dan putih. Tapi itu cukup. Aku berterima kasih sekaligus bersyukur akan berbagai warna yang pernah menghiasi hidupku.

Hitam-putih warnaku… Tape recorder yang kau beli dari kios tua di pinggir kota.